Dasar Matematika, Ribet!!! #Catatankecil

Klo ada siswa yang mengeluh belajar matematika karena cara untuk menemukan satu angka atau satu bilangan saja caranya panjang banget dan prosesnya ribet.
Jangan dimarah, cukup ajak nonton sepak bola atau nonton sea games.
Dalam sepakbola nyari 3 poin saja sampai “berdarah-darah” persiapannya panjang, proses untuk sampai pada 3 poin harus mengarungi 90 menit + injury time. “Itu belum cukup” liat Sea games, untuk mendapat medali, katakanlah emas, itu butuh proses, cara, strategy yang sangat kompleks, butuh determinasi, kegigihan dan pantang menyerah.

Intinya matematika bukan tentang angka, bukan tentang jawaban, matematika tentang proses dan tentang pemahaman.


KAW

Iklan

Kenapa guru atau orang tua mudah MARAH ketika mengajar siswa atau anaknya? #Catatankecil

Yaa… Seringkali kita (guru atau orang tua) marah, geram, geregetan, atau tidak sabaran ketika melihat siswa atau anak kita tidak bisa melakukan seperti apa yang “kita inginkan”

Misalnya anak kelas 5 SD yg tidak hapal perkalian dengan baik, anak kelas 2SD yang masih sulit membaca padahal berungkali kita dikasi tau caranya. Anak kelas 1 SMP yang tidak bisa membedakan himpunan dengan himpunan bagian, membedakan alam semesta dengan istilah semesta pada himpunan, dll.

Sebenarnya marah dalam pandangan saya, terjadi bukan menunjukkan siswanya bodoh, siswanya lemot, atau siswanya jelek. Tapi sebaliknya, guru/orang tua marah justru menunjukkan kelemahan dia, kekurangan dia, dan betapa bodohnya dia.

Guru/orang tua marah disebabkan karena guru/orang tua sudah tidak tahu lagi cara menjelaskan dengan CARA YANG BERBEDA permasalahan yang dihadapi siswa. Guru/orang tua memaksakan kehendak siswa harus berpikiran sama dengan apa yang ia pikirkan. “Masak segitu ajaa gak bisa” “kamu kok gak ngerti2 sih”, dll.

Sekali lagi guru/orang tua marah (apalagi sampai menjudge negatif) bukan menunjukkan kekurangan siswa/anak tapi justru kekurangan dirinya sendiri.
(Kenapa?)

GURU BAHAGIA #Catatankecil

Selain melihat anak didik berhasil, hal yang membuat Guru merasa Bahagia adalah ketika anak didik memberi kepercayaan untuk menceritakan masa-masa sulitnya selama bersekolah dan mengikuti berbagai mata pelajaran.

Anak-anak kadang takut untuk sekedar bertanya atau menceritakan keluh kesahnya selama mengikuti pelajaran. Padatnya jadwal, banyaknya PR, dan rutinnya pelaksaan Ulangan/Kuis membuat anak didik sering kali merasa “jenuh”. Maka BERBAHAGIALAH GURU YANG DIBERI KEPERCAYAAN OLEH ANAK DIDIKNYA UNTUK MENDENGAR CURHATAN ITU SEMUA.

Setidaknya, salah satu guru itu adalah saya. Anak didik saya memberhentikan gerak tangannya sejenak karena merasa kesulitan, tidak mampu, merasa payah, dan merasa tertekan dengan adanya KUIS YANG DATANGNYA BERTUBI-TUBI.

“kapan saya bisa bernafas? kapan saya bisa bermain?” “kalau hanya PR saja mungkin tidak apa2” Mungkin ini saatnya saya merenung. Kadang saya terlalu egois sebagai GURU MATEMATIKA, saya berpikir bahwa dia harus bagus bermatematika, nilai kuis harus standar KKM. Tapi, disisi lain masih banyak mata pelajaran lain yang menanti, yang juga bertemu “guru egois” yang sama seperti saya yang menginginkan hal sama seperti saya. “dia harus bagus biologi” “dia harus bagus IPS” dia harus bagus komputer” dsb.

Yaa… sah-sah saja kita menuntut anak didik bagus semuanya. Tapi apakah cara yang kita gunakan sudah tepat? Saya seringkali berpikir tentang itu.

Pandang Saya sebagai Manusia #catatankecil

Sambil menunggu bis mau berangkat ke Malang saya bertemu kakek tua. Beliau bermaksud membeli minuman (sprite). Beliau mengeluarkan uang lima ribuan. Ketika hendak membayar, ternyata harga spritenya 6.000. Saya mengamati dari jauh. Saya yang kebetulan mau bayar juga, mohon ijin kepada beliau untuk membayar sprite yang dibeli.
“Sampean yang bayar?”
Saya hanya mengangguk, sambil menampakkan senyum.
“Terima kasih yaa, smg Gusti Allah membalas”
.
Setelah kalimat terakhir itu, saya tahu kalau beliau seorang Muslim. Lantas, apa saya membatalkan bantuan yang saya tawarkan? Tentu tidak. Saya sekolah di Malang, kuliah di tanah Jawa, sudah ratusan, ribuan, bahkan sudah tak terhingga pertolongan yang saya terima dari teman2 di luar agama saya (Hindu). Saya hanya bersyukur, betapa nikmatnya perbedaan yang Tuhan ciptakan ini.

KAW.

Jadilah Murid yang RESPECT #catatankecil

Beberapa waktu lalu saya melihat postingan seorang tentara yang sedang menyesali perbuatannya. Pada foto yang diunggah tampak seorang tentara berdiri “sedikit loyo” di depan murid. Tentara tersebut menuliskan kesulitannya mengatur murid2 yang sedang diajar. “Nakal dan susah diatur” begitu ungkapnya. Dan dia mengingat masa masa ia menjadi murid dulu yang nakal dan sering jahilin gurunya. Ingat karma, begitulah kira kira.

Apapun pekerjaan kita saat ini dan apapun kehidupan kita saat ini pasti tidak terlepas dengan dunia mengajar. Minimal kita akan jadi orang tua atau pimpinan kecil di masing masing perusahaan. Untuk itu RESPECT adalah tindakan yang paling baik kita tunjukkan kepada guru, entah kita suka ataupun tidak suka dengan pelajaran.

Sebagai catatan, guru selalu berusaha berpikir adil dengan memperhatikan semua murid. Guru tentu akan kesulutan jika harus memperhatikan tingkah pola satu dua murid yang “tidak beretika”. Untuk itu, hargai dan hormati guru sebagaimana kita nanti berharap agar dihargai dan dihormati minimal oleh orang terdekat kita yang akan kita ajar.

KAW.

Buku “ROMO SANG PENGABDI”

 

19274782_10209170688116743_3472198121043373252_nBuku tentang pengabdian seorang pemangku berusia 86 tahun di salah satu Pura sederhana (kecil) di Malang. Namanya Pura Margashirsa. Pura yang paling sering dikunjungi oleh mahasiswa Hindu yang kuliah di Malang.

Salah satu testimoni tentang buku Romo Sang Pengabdi dari salah satu pengurus PD KMHDI Jakarta Kmhdi Pusat. “Buku ini mewakili kisah seorang pemimpin persembahyngan, yang saya yakin kadang luput dari pemikiran kita. Penghormatan setinggi-tingginya kepada beliau yang masih setia mengabdikan dirinya untuk umat.” Terima kasih atas apresiasinya dan perhatiannya. Rsi memang salah satu guru yang sangat dihormati. Lanjutkan membaca “Buku “ROMO SANG PENGABDI””

FILM DOKUMENTER ROMO SANG PENGABDI “MENUJU VISI BESAR KEPEDULIAN UMAT KEPADA PARA RSI ATAU PEMANGKU YANG TULUS MENGABDI”

18221802_10208783403514870_4111218665718982700_n

Umat Hindu di Kota Malang sebagian besar didominasi oleh mahasiswa yang merantau dari Bali. Di sekitaran Kota Malang terdapat 5 Pura, 1 Pura cukup besar namanya Pura Dwijawarsa dan 4 Pura lainnya relatif kecil, baik dari segi area Pura maupun pangempon. Umat Hindu atau mahasiswa Hindu sebagian besar (lebih sering) melakukan persembahyangan ketika hari Raya Purnama atau Tilem di Pura Margashirsa yang terletak di kecamatan Sukun. Pura Margasirsha letaknya tepat di pusat kota dan sangat terjangkau (dekat dengan sebagian besar tempat kos mahasiswa Hindu) sehingga Pura ini selalu menjadi pilihan untuk melaksanakan persembahyangan.

Sebelumnya terdapat 2 pemangku yang memimpin persembahyangan dan memberikan pelayanan kepada umat Hindu yang sembahyang di Pura ini. Beberapa tahun lalu, salah satu Pemangku namanya Romo Mangku Ahmad meninggal dunia, sehingga hanya tinggal 1 Romo Mangku di Pura ini. Tidak banyak mahasiswa yang mengetahui akan kondisi ini walaupun sering sembahyang disana. Termasuk apa yang akan terjadi apabila semua Romo sudah tiada, mengingat Romo mangku sudah berusia lanjut.

Melalui survey yang dilakukan, hampir semua mahasiswa tidak tahu nama Romo mangku yang memimpin persembahyangan.

17098476_10208333822315621_669988380783293787_n

Padahal Romo mangku selalu menyapa dengan sangat ramah setiap umat yang datang. Melalui kondisi ini, kami (kadek adi wibawa, ketut Tomy suhari, dan kader ernawan) berinisiatif untuk membuat film dokumenter.

Hanya bermodal niat yang baik dan nekad, kami melewati hari demi hari. Banyak kisah yang ternyata sangat menyedihkan dan sungguh berharga untuk dipelajari.

16387302_10208095856686629_7732405015874792020_n

Bisa dibayangkan, selama ini mahasiswa (umat Hindu) yang melaksanakan sembahyangan disana “hanya menerima beres”. Datang, duduk, sembahyang, nunas tirta dan pulang. Pertanyaan tentang “siapa yang mempersiapkan semua banten?” “siapa yang membuat?” “dimana mendapat uang?” bagaimana perjalanan membawa banten sebanyak itu?” “siapa yang membawa?” dan sebagianya. Banyak pertanyaan yang “semestinya” mahasiswa tanyakan sebagai genarasi muda yang kritis (agent of change). Tapi ternyata nihil.

Semangat yang tak pernah pudar dan lelah, apapun akan pasti dihadapi!

 

romo

H – 5 Romo membeli perlengkapan persembahyangan di pasar Janti. Pagi-pagi beliau berangkat dengan menaiki bemo. Janur, pisang, rengginang, kelapa dan yang lain beliau pikul sendiri, dan balik lagi menggunakan bemo. Setelah itu Romo membuat sendiri ceper hingga banten untuk persiapan persembahyangan.

H – 2 Romo membeli bunga dan perlengkapan lainnya. Dan H – 1 Romo mulai menata banten untuk kelengkapan sesaji. Mungkin ini tampak sangat biasa bagi bapak ibu yang sudah terbiasa melakukan ini. Tapi ada satu yang sangat menyentuh, bahwa Beliau melakukan semua dalam keadaan ekonomi yang terbatas. Beliau juga hidup dilingkungan non Hindu, yang mana Romo istripun dulunya seorang non-Hindu.

Beliau membawa semua banten dan perlengkapan persembahyangan menungganakan becak. Sungguh ini satu kondisi yang sebelumnya kami tidak ketahui.

Beliau mengangkut semua banten setelah semuanya sudah berada dalam becak. Romo mangku dan Romo istri mendorong becak bareng-bareng, dan ketika jalan menurun beliau manariknya dari belakang. Sangat terharu kami mendokumentasikan momen ini. Beliau mengayuh becak dengan sangat bersemangat, tak ada satu raut kekesalan atau kekecewaan terhadap hidup yang beliau jalani. Beliau sangat menikmati semua rintangan yang ada.

Setelah tiba, beliau menyapu dan membersihkan areal Pura bersama pangempon lain yang juga sudah sangat sepuh. Semua keadaan bersih dan siap sedia.

16265978_10208072327058403_5117262815084691402_n

Umat Hindu atau mahasiswa Hindupun datang silih berganti. Duduk dengan persaaan tenang, dan nyaman. Iya, semua karena pelayanan beliau, termasuk menyediakan tikar untuk tempat duduk.

Saat-saat pulang merupakan momen tersesedih dari perjalanan beliau memimpin upacara. Ini sama sekali tidak ada yang tahu, dan tidak ada yang mau tahu. Dalam keadaan hujan, Romo mangku dan Romo istri bersama-sama menaiki becak. Yang sesekali tampak mendorong dan menarik becak itu karena jalanan yang menanjak dan menurun. Mereka menembus semua nya dengan perasaan penuh pelayanan. Hidup memang tidak mudah. Tapi beliau bisa menikmati. Terbukti hingga akhir perjalanan beliau masih bisa tersenyum.

Ini Jawa, yang mana Hindu adalah minoritasi secara kuantitas. Romo seperti Romo mangku Sumardi dan Romo istri tentu tidak sendiri. Masih banyak Romo mangku yang lain yang seperti beliau. Berjuang dalam pengabdiannya yang “mengharuskan” beliau untuk tetap menerima semua keadaan karena konsekuensi pada kecintaanya terhadap Hindu.

Visi besar dari dibuatnya film ini adalah terciptanya kepekaan dan kesadaran umat Hindu kepada semua pemangku (pemimpin upacara) terutama pemangku yang secara ekonomi sangat terbatas, atau bisa dibilang kurang mampu.

18056800_10208750864581417_1409439298195540052_n

Film dokumenter ini, didedikasikan untuk semua pemangku yang sudah mengabdikan dirinya pada umat Hindu dengan tulus tanpa mengharapkan hal lebih.

Film ini tayang hari Minggu, 7 Mei 2017 di Hotel Ubud Malang. Setelah pemutaran film akan ada diskusi yang dihadiri oleh Shri. Dr. Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS II (Senator DPD Bali), dr. Putu Moda Arsana, SpPD. KEM FINASIM (Ketua PHDI Malang), dan  Kadek Adi Wibawa, S.Pd., M.Pd. (Direktur film “Romo Sang Pengabdi”).

18402787_10208859880146738_6623696708735340116_n

Penulis

Kadek Adi Wibawa, S.Pd., M.Pd.

Direktur film dokumenter Romo Sang Pengabdi

(Tulisan ini sudah di publish di Media Hindu pada bulan Juni 2017)

18835731_10209050151543404_5734138752732386260_n