Saya Merindukannya

download

Tiba-tiba saya merindukan seseorang yang dulu seringkali kali datang ke asrama. Kadang saya masih dalam keadaan ngantuk, belum begitu puas tidurnya, dia datang bersama ibunya. Dengan senyum dan sapaan yang ramah dan selalu membuat suasana menyenangkan. Dia selalu datang dengan rasa hormat yang tinggi dan sangat menghargai saya sebagai seorang guru.

Dia adalah gadis kecil yang duduk di kelas 6 SD di salah satu sekolah swasta di Malang. Dia datang bersama ibunya (selalu). Pagi-pagi, jam 7 pagi, atau kadang sepulangnya dari kegiatan di sekolah. Dia adalah anak yang kritis dan penuh bakat. Suatu hari dia bercerita bernah bertanya pada gurunya kenapa 0 per 0 itu hasilnya tidak terdefinisi? Sang Guru tidak bisa menjawabnya. Dia juga menanyakan banyak rumus-rumus geometri dari mana datangnya? kenapa bisa begitu rumusnya? Jawaban yang dia dapat adalah jawaban sini gurunya.

Dia punya bakat di bidang bahasa inggris, sering mengikuti lomba-lomba stroy telling. Dia punya minat juga di sains, dan dia punya minat di matematika. Dia selalu tampak bersemangat ketika belajar. Bahkan ketika dia terlihat capek karena banyak aktivitas yang dilakukan, dia selalu menampakkan sikap yang positif dan yang pasti tidak pernah saya dengar ada nada mengeluh. Lanjutkan membaca “Saya Merindukannya”

Iklan

WISUDA KE-3 SEBAGAI PAMUNCAK

IMG_2995Setidaknya saya bisa berbangga hati untuk hari Sabtu, 24 Februari 2018 saja, karena saya sadar bahwa tantangan sesungguhnya adalah setelahnya.

Menyandang predikat terbaik dari sekian banyak lulusan S3 periode wisuda 91 Universitas Negeri Malang tentu menjadi impian saya sejak dulu. Menjadi pamuncak yang namanya paling sering disebut tentu begitu mengharukan. Sepertinya untuk wisuda saat iini, sayalah yang “TERMUDA”, yang menambah bahagia ini begitu terasa.

Perjalanan ini tidak mudah, banyak hal yang sudah saya lalui, termasuk keinginan untuk CUTI karena rasa frustasi yang tak tertahankan. Tapi saya sangat bersyukur memiliki Keluarga yang sangat peduli, yang tiada henti terus mensupport dan berdoa. Memiliki kedua orang tua yang terus mengingatkan. dan memiliki sahabat yang bisa diajak untuk berbagi cerita dan bersenda gurau.

Memang ini bukan bahagia yang utuh, seperti saat pertama kali saya mengawali perkuliahan S3. Karena sahabat2 saya saat ini masih ada yang sedang berjuang. Doa ini dan segala kerendahan hati ini selalu terpanjat, agar sahabat2 saya bisa selesai secepatnya.

Hingga pada tahap ini, banyak pihak sudah membantu mulai dari Bapak I Nengah Parta sebagai orang tua di Malang dan pembimbing yang detail dan menumbuhkan semangat optimis. Mr. Tony Barry sebagai sponsor. LPDP sebagai pemberi dana untuk research. Unmas Denpasar yang sudah membantu untuk penerbitan artikel. Promotor I dan II, Bapak Prof. Toto Nusantara dan Bapak Dr Subanji. Bapak Ardana Made sebagai penguji dari Undiksha. Semua Keluarga, sahabat, dan semua pihak yang tidak bisa saya sebut satu persatu-satu.
Terima kasih atas doa dan dukungannya.

Ucapan syukur dan parasuksme juga saya haturkan kehadapan Luluhur, Kawitan dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena berkat waranugrahanya saya bisa pada tahap ini.

Salam hangat.

IMG_3004

IMG_3026

 

 

 

 

Menjadi Penanya: Dimulai dari Guru

adi

Secara resmi pemerintah Indonesia melalui kurikulum 2013 menyaratkan siswa menjadi seorang penanya (metode sainstifik). Sebelum meminta siswa menjadi penanya yang baik dan berani, tentu guru (pendidik) juga harus berani dan terus belajar untuk menjadi seorang penanya. Salah satu keterampilan yang diasah melalui bertanya adalah kemampuan berpikir kritis. Kita akan dituntut detail dan sadar untuk memperhati atau mengamati sesuatu. Dengan begitu pertanyaan bisa terangkai.

Pengalaman bertanya di seminar internasional tentu menjadi tantangan tersendiri. Pertama, disamping spesifik dan konten yang ditanyakan jelas. Yang kedua adalah faktor bahasa. Bahasa inggris yang digunakan sebisa mungkin dapat dimengerti oleh pembicara dan moderator.

Walaupun struktur kalimatnya masih belum begitu rapi. Syukur pertanyaan yang saya ajukan dapat dimengerti. Saya hanya mau menunjukkan bahwa keingintahuan terhadap konten saja tidak cukup. Perlu adanya keberanian (tidak malu) untuk mendasarinya.

Pengalaman yang mengesankan karena setelah bertanya, mendapat hadiah buku dari penulisnya langsung.
Makassar, 9 Oktober 2017
The 2nd International Conference Statistic, Mathematics, Teaching and Research 2017

aa.jpgad.jpg

Jangan Berkarya kalau Takut Kritik

26903734_10210734518171517_4597272628953558530_nPesan paman “selama kita berkarya, ada wujud dan hasilnya, selama itu kita akan mendapat penilaian dan kritikan. Kalau tidak mau dinilai dan dikritik, ya jangan berkarya”

Karya terakhir saya di tahun 2017 bersama tim produksi adalah film dokumenter Romo Sang Pengabdi dan sekaligus launching film skala nasional. Tujuan utama (visi besar) pembuatan film ini dan diskusi yang dilakukan adalah Semua pihak (PHDI, pemerintah, pejabat, para dermawan (dibaca: orang kaya), dan yg lainnya) di seluruh indonesia memperhatikan dan menjamin kehidupan Pemangku, terutama pemangku yang secara ekonomi kurang. Saya bersama tim sudah melakukan sedikit research mencari informasi bahwa sangat memungkinkan desa melakukan Rsi Yadnya baik berupa sembako atau uang bulanan kepada para Pemangku yang secara ekonomi kurang.Namun sangat disayangkan, tujuan utama ini (tujuan mulia) harus terkikis dan terhenti di tengah jalan karena kritikan yang kami terima. Prosedur yg tidak kami lakukan dengan baik dan keinginan kami mendatangkan salah satu narasumber ternyata menjadi sprotan yang sangat tajam. Beberapa pihak menyalahkan dan menyudutkan itu yang membuat kami sibuk meladeni kritikan itu. Sehingga kami jadi lupa akan tujuan utama yang kami tentukan dari awal.

Dana yang terkumpul sekitar 8.200.000 dari hasil donasi penonton film. Ketika saya di Malang, uang sudah terdonasikan 2.000.000 untuk 6 pemangku yang ada di Malang. Salah satu pemangku sakit. Saat ini, dana masih disimpan dan dikelola oleh Pc KMHDI Malang. Sempat terlontar dari diskusi yang disampaikan oleh PHDI Kota Malang Bapak dr. Putu Moda rencana untuk membuatkan BPJS kepada semua pemangku yang ada di Malang.

Mungkin kalau saya dan tim tidak terlalu sibuk meladeni kritikan yang datang bertubi tubi. Tujuan ini bisa tercapai dan terlaksana. Tulisan tentang VISI BESAR ini sudah saya tulis dan dipublish di Media Hindu.

Lanjutan kata paman “seperti orang berlari, fokus sama tujuan, jangan toleh samping kanan samping kiri”

Hidup adalah belajar. Dan belajar adalah hidup.
Semoga semua menjadi baik adanya.

Salam hangat
Kadek Adi Wibawa dan Tim Produksi Film Dokumenter Romo Sang Pengabdi

Lanjutkan membaca “Jangan Berkarya kalau Takut Kritik”

Dasar Matematika, Ribet!!! #Catatankecil

Klo ada siswa yang mengeluh belajar matematika karena cara untuk menemukan satu angka atau satu bilangan saja caranya panjang banget dan prosesnya ribet.
Jangan dimarah, cukup ajak nonton sepak bola atau nonton sea games.
Dalam sepakbola nyari 3 poin saja sampai “berdarah-darah” persiapannya panjang, proses untuk sampai pada 3 poin harus mengarungi 90 menit + injury time. “Itu belum cukup” liat Sea games, untuk mendapat medali, katakanlah emas, itu butuh proses, cara, strategy yang sangat kompleks, butuh determinasi, kegigihan dan pantang menyerah.

Intinya matematika bukan tentang angka, bukan tentang jawaban, matematika tentang proses dan tentang pemahaman.


KAW

Kenapa guru atau orang tua mudah MARAH ketika mengajar siswa atau anaknya? #Catatankecil

Yaa… Seringkali kita (guru atau orang tua) marah, geram, geregetan, atau tidak sabaran ketika melihat siswa atau anak kita tidak bisa melakukan seperti apa yang “kita inginkan”

Misalnya anak kelas 5 SD yg tidak hapal perkalian dengan baik, anak kelas 2SD yang masih sulit membaca padahal berungkali kita dikasi tau caranya. Anak kelas 1 SMP yang tidak bisa membedakan himpunan dengan himpunan bagian, membedakan alam semesta dengan istilah semesta pada himpunan, dll.

Sebenarnya marah dalam pandangan saya, terjadi bukan menunjukkan siswanya bodoh, siswanya lemot, atau siswanya jelek. Tapi sebaliknya, guru/orang tua marah justru menunjukkan kelemahan dia, kekurangan dia, dan betapa bodohnya dia.

Guru/orang tua marah disebabkan karena guru/orang tua sudah tidak tahu lagi cara menjelaskan dengan CARA YANG BERBEDA permasalahan yang dihadapi siswa. Guru/orang tua memaksakan kehendak siswa harus berpikiran sama dengan apa yang ia pikirkan. “Masak segitu ajaa gak bisa” “kamu kok gak ngerti2 sih”, dll.

Sekali lagi guru/orang tua marah (apalagi sampai menjudge negatif) bukan menunjukkan kekurangan siswa/anak tapi justru kekurangan dirinya sendiri.
(Kenapa?)

GURU BAHAGIA #Catatankecil

Selain melihat anak didik berhasil, hal yang membuat Guru merasa Bahagia adalah ketika anak didik memberi kepercayaan untuk menceritakan masa-masa sulitnya selama bersekolah dan mengikuti berbagai mata pelajaran.

Anak-anak kadang takut untuk sekedar bertanya atau menceritakan keluh kesahnya selama mengikuti pelajaran. Padatnya jadwal, banyaknya PR, dan rutinnya pelaksaan Ulangan/Kuis membuat anak didik sering kali merasa “jenuh”. Maka BERBAHAGIALAH GURU YANG DIBERI KEPERCAYAAN OLEH ANAK DIDIKNYA UNTUK MENDENGAR CURHATAN ITU SEMUA.

Setidaknya, salah satu guru itu adalah saya. Anak didik saya memberhentikan gerak tangannya sejenak karena merasa kesulitan, tidak mampu, merasa payah, dan merasa tertekan dengan adanya KUIS YANG DATANGNYA BERTUBI-TUBI.

“kapan saya bisa bernafas? kapan saya bisa bermain?” “kalau hanya PR saja mungkin tidak apa2” Mungkin ini saatnya saya merenung. Kadang saya terlalu egois sebagai GURU MATEMATIKA, saya berpikir bahwa dia harus bagus bermatematika, nilai kuis harus standar KKM. Tapi, disisi lain masih banyak mata pelajaran lain yang menanti, yang juga bertemu “guru egois” yang sama seperti saya yang menginginkan hal sama seperti saya. “dia harus bagus biologi” “dia harus bagus IPS” dia harus bagus komputer” dsb.

Yaa… sah-sah saja kita menuntut anak didik bagus semuanya. Tapi apakah cara yang kita gunakan sudah tepat? Saya seringkali berpikir tentang itu.