MERDEKA BELAJAR ADALAH BARANG USANG DAN PJJ BUKAN MERDEKA BELAJAR YANG SESUNGGUHNYA

116761814_10216907297087132_5562691272130456565_nIstilah Merdeka Belajar menjadi frasa utama yang diakomoditi menjadi kebijakan oleh Mas Mentri saat ini. Merdeka Belajar digadang-gadang menjadi solusi dari semua ruetnya permasalahan pendidikan hingga saat ini. Setidaknya, andalan Mas Mentri adalah menghapus UN, Pendidikan Guru Penggerak (PGP), dan Pembelajaran jarak Jauh (PJJ). Bahkan disatu momen, Mas Mentri menyampaikan bahwa PJJ bakal tetap dilaksanakan walaupun wabah telah berakhir. “Waduhh… gimana pendapat para orang tua yaa?”

MERDEKA BELAJAR adalah ISTILAH YANG USANG. Sejak Bung Karno dan Bung Hatta menyatakan diri bahwa Indonesia Merdeka, itulah masa-masa dimana para pebelajar di Indonesia belajar tanpa rasa takut. Belajar tentang Pancasila, UUD 1945, Wawasan Kebangsaan, Wawasan Nusantara, Musik, Sains, dan lainnya. Pebelajar Indonesia seakan menghirup udara segar untuk mengekspresikan diri. “Mau belajar apapun, sesuai dengan bakat dan kemampuan saya, tidak jadi masalah. Tidak ada yang saya takuti dan tidak ada yang menakut-nakuti”. Dari pemahaman itu, lahir banyak musisi hebat, lahir banyak sastrawan handal, lahir insinyur di berbagai bidang, dan banyak lagi tokoh-tokoh nasional dan dunia.

Kemana arah Merdeka Belajar kala itu? Arahnya jelas “berpikir, bertindak dan berkata tanpa rasa takut sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing individu dengan berpedoman pada Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika” itulah merdeka belajar. Jika sekarang siswa takut belajar karena tidak memiliki laptop atau smartphone, apakah itu merdeka belajar? Oke, anggaplah semua siswa di seluruh Indonesia memiliki laptop dan smartphone, kita menggunakan aplikasi “orang luar” untuk kita menyelenggarakan pendidikan jarak jauh, apakah itu juga dimaksudkan sebagai merdeka belajar? Mengahpus UN dan menggantinya dengan istilah lain yang didasarkan pada hasil riset “orang luar” (salah satunya PISA), apakah itu merdeka belajar? Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang sibuk adalah orang tua, mulai dari mendaftar hingga demonstrasi, apakah itu merdeka belajar? Duhh… semakin ruet. Apa sesungguhnya merdeka belajar?

Seorang anak berusia 14 tahun (kelas 7 SMP) memberanikan diri maju menemui seorang guru di depan kelas dengan perasaan gugup. “Pak, saya tidak begitu ahli matematika terlebih aljabar, tapi saya bisa bernyanyi pak. Kata Ibu saya, suara saya cukup bagus” Seorang guru menampakkan ekspresi yang sangat bahagia karena seorang siswa berani menghadap dan menyampaikan perasaannya dengan jujur. “Tidak masalah nak, semua orang punya kesulitan yang berbeda-beda. Tapi bapak sangat senang karena kamu sudah jujur, maukah menghibur bapak dan teman-teman sekelasmu dengan bernyanyi di depan kelas”. Siswa itupun dengan berani dan bangga menyanyikan sebuah lagu untuk guru dan teman-temannya. Itulah merdeka belajar.

Setiap siswa dilahirkan berbeda dengan kemampuan dan bakat masing-masing. Ketika seorang guru bisa mengakomodir perbedaan bakat itu, maka disanalah istilah Merdeka Belajar menjadi relevan. Harusnya ini yang menjadi dasar dan modal Mas Mentri untuk mengejawantahkan arti sesungguhnya dari Merdeka Belajar. Mulai dari mana? Mulai dari Penerimaan siswa baru. Bukan hanya didasarkan pada zona dan prestasi yang hanya ditunjukkan dengan sekumpulan sertifikat, tetapi bakat dan kemampuan secara faktual yang ditunjukkan oleh siswa saat itu juga. Dan itulah yang dijadikan dasar oleh pihak sekolah untuk mengembangkan bakat anak selama berada di sekolah.

Dr. Kadek Adi Wibawa, S.Pd., M.Pd (Dosen dan Praktisi Pendidikan)

ANCAMAN LEGISLASI

70326858_10214556977490611_6558955986353127424_n

“Tujuh ancaman yang dihadapi Bangsa Indonesia, yaitu Ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, keselamatan umum, teknologi dan legislasi” (Kementerian Pertahanan RI)

.
Menurut Kolonel Inf. Ketut Budiastawa, S.Sos., M.Si @kemhanbali ancaman legislasi lah paling bahaya. Kenapa? Karena produk hukum yang mengatur tatanan masyarakat dirancang dan diproduksi disana. Bahayanya ketika produk hukum justru berdampak buruk pada objek yang diaturnya. Aspek jual beli kepentingan sangat berpengaruh jika mentalitas perancang Undang-undang lemah. Untuk itu diperlukan semangat Bela Negara dalam mempersiapkan ini semua.
.
Generasi muda juga perlu menyadari “penyampaian aspirasi yang beretika yang diutamakan. Budayakan, membaca naskah akademik dengan seksama sehingga mengetahui esensi isu yang disampaikan”
.
Banyak wujud ancaman di depan mata, isu radikalisme yang kian menjadi, intoleransi yang sedang digaungkan lagi.
.
Semua itu bagian dari tantangan bagi Bangsa yang berkembang menuju bangsa yang maju.
.
Saatnya seluruh elemen bangsa bersatu padu unt
uk saling mengingatkan satu sama lain, bahwa kita masih dan selalu punya harapan. Harapan untuk mewujudkan cita2 Bangsa Indonesia yang terkandung dalam UUD 1945.

.
Foto: saat mengisi PPLK di @stdbali tahun 2019, membawakan materi Bela Negara: Cegah Radikalisme dan Intoleransi.
#selaluadaharapan #NKRI

SEMINAR NASIONAL: RELASI DAN TREND PENELITIAN

67591991_10214179802861481_411776222817681408_n

Seminar (internasional) bukan hanya tentang datang untuk mempresentasikan paper hasil penelitian, yang kemudian mendapat sertifikat untuk kenaikan pangkat. Bukan hanya datang untuk mendengarkan Keynote Speaker berbicara.

Seminar untuk bertemunya individu-individu yang “merasa dirinya perlu banyak belajar” utamanya tentang perkembangan penelitian saat ini. Membuka cara pikir dan wawasan, bahwa banyak hal telah berubah, dan ada banyak hal yang baru. (Jurnal kami sudah terindeks Sinta 2, jurnal kami sudah terindeks Scopus, cara dapat beasiswa PhD, dll)

Seminar tentang membangun relasi, bertukar informasi tentang pemahaman selama ini, sistem pembelajaran, dan banyak hal, hingga mengajak untuk datang ke acara “kami”, jika suatu saat mengadakan kegiatan yang sama.

Semakin banyak belajar, semakin banyak yang tidak diketahui. Sebelumnya ada penelitian R & D, action research, experiment, descriptive qualitative, etnomathematics dan skrng design research. Setidaknya itu baru bagi saya, dan tujuannya sangat bagus, yaitu mengembangkan material pembelajaran dengan perspektif yang berbeda.

HOTS, RME, HLT, LIT, DESIGN RESEARCH kata kunci yang paling banyak dibicarakan di seminar kali ini. SEA-DR IC 2019 di Universitas Sanata Dharma Yogjakarta.
#maribelajarbersama #openminded @ Universitas Sanata Dharma

 

BIMBINGAN TEKNIS KURIKULUM 2013 YAYASAN WIDYATMIKA

65103146_10213963992986369_5292390222619738112_n

PTK ITU MUDAH, materi yang saya bawakan pada kegiatan tersebut. Peserta dari guru-guru TK, SD, SMP, SMA dan SMK dari lintas Prodi. Pertemuan yang sangat berkesan, bisa berbagi sekaligus belajar.
Turut hadir Ketua Yayasan, Ketua Komite dan Kepala Sekolah. Kegiatan berlangsung pada hari Jum’at, 21 Juni 2019.

FoMuBer, adalah formula untuk mewujudkan PTK dengan mudah.
FOkus pada masalah
MUlai bekerja setelah solusi ditemukan
BERkolaborasilah dengan sejawat dan/atau ahli.
.
Terima kasih atas kesempatannya.

Link Materi PTK di Widyatmika

Kebenaran Tidak Tunggal

67833001_10214271797921300_375771069593681920_n

Terus berproses, lakukan yang terbaik. Hidup seringkali tidak mudah untuk ditebak.


1 + 1 = 2, orang IT bilang, “bukan 2, tapi 10”. Setelah dipahami dengan seksama, dua jawaban tersebut sama benarnya, hanya saja perspektifnya saja yang berbeda. Prespektif yang berbeda seringkali tercipta karena pengalaman masing-masing individu yang berbeda. Dan ada kalanya kita berkesimpulan bahwa “kebenaran itu tidak tunggal”. Sehingga kedewasaan akal akan terjaga.
#hiduprukunlebihbahagia
— di Kota Denpasar.

Deni Hamdani, M.Pd

Dalam IT 10 itu tidak dibaca SEPULUH, karena 10 itu adalah biner (bilangan yang elemen nya hanya {0,1}). Jika dikaitkan dengan konsep DISJUNGSI maka 1+1=1 (Benar atau Benar =Benar)

Dr. Nengah Parta

Kebenaran itu memiliki tiga wajah: Kebenaran Pragmatis, Kebenaran Korelasional, dan Kebenaran yang sifatnya Koheren. Apa itu, silakkan datang ke Prodi S3 Pendidikan Matematika UM. Kita diskusi bersama. Bagi yang blum S3 kutunggu.

Bapak Ketut Entel, M.PdH

…mari kita maknai mana kebenaran Inividu dan mana kebenaran Universal

Komang Oka Mahendra, MH

5 DASAR KEBENARAN:
1. PENGETAHUAN
2. CINTA
3. KEADILAN
4. PENGABDIAN
5. KESABARAN

(Perspektif nilai/futuristik/tak lekang oleh waktu)

Oleh SHRI KRSHNA (BHAGAWADGITA)

MODERATOR 4.0

69063089_10214347524854426_1569391993535070208_n
“Prof, benar ini fotonya Prof yaa?” Saya menunjukkan foto beliau setelah sya searching berbagai informasi tentang beliau. Sebagai moderator saya tidak diberikan CV beliau, tapi saya punya smartphone yang sekiranya bisa dimanfaatkan.
.
Saya cari semua informasi tentang beliau, yang ternyata lulusan S2 dan S3 dari Jepang dan punya prestasi sebagai peneliti terbaik di Universitas tempat beliau bekerja. Nama beliau Prof. Dr. Heri Hermansyah, ST. M.Eng, yang punya motto, “hidup ibarat berenang, kita harus terus berenang sampai lintasan akhir, jika berhenti ditengah, resikonya adalah tenggelam” itu juga saya tahu setelah membaca ulasan tentang beliau melalui smartphone.
.
Foto saat kegiatan Workshop Revitalisasi Reviewer di Hotel Bedrock, Bali.
Terima kasih @lppmunmas atas kesempatannya.

Presentasi yang Baik

46482720_10212650297344799_3593160414243848192_n.jpgSaya sering menuntut mahasiswa untuk bisa tampil baik saat presentasi. Saya perhatikan detail, mulai dari isi ppt, komposisi ppt, animasi, penempatan gambar, cara penyampaian (jgn coba coba baca!), Gestur, tatapan ke audiens, strukturisasi kalimat, cara menjawab dan menanggapi pertanyaaan, hampir semua hal saya perhatikan dan komentari.
.
Kenapa???
.
Karena saya menuntut diri saya juga sama dan saya tahu kebutuhan masa depan apa untuk mereka (mahasiswa).
.
Untuk tampil 15 menit, saya harus menghabiskan waktu kurang lebih 1 Minggu. Hampir di setiap tempat dan kesempatan (termasuk kamar mandi) saya manfaatkan untuk berlatih presentasi. Apakah hasilnya pasti bagus? Belum tentu juga. Tapi dibandingkan persiapannya hanya sejam saja (baca ditempat) bisa dipastikan persiapan 1 minggu jauh lebih baik.
.
Foto ini di ambil oleh @adeanpy saat saya menjadi paper presenter di seminar Internasional ISMEI ke 5 di Yogyakarta Indonesia. 

MIMPI MENJADI SEORANG PENULIS

11885348_10204685514630209_4749593597769264109_nMimpi saya menjadi seorang penulis lahir ketika dipercaya oleh Guru SMA untuk mewakili sekolah mengikuti perlombaan deklamasi puisi. Saya sempat meragu dan takut akan masa lalu yang menghantui (seperti biasa). Saya pernah punya pengalaman mengikuti lomba sebelumnya sewaktu SD, lomba membaca puisi dan GAGAL. Bukan karena tidak mampu, tapi lebih pada mental yang lemah. Kali ini sedikit berbeda, saya memiliki Guru yang tekun melatih saya, dan bersyukur saya bisa mendapat JUARA HARAPAN 1. Kepercayaan diri meningkat, hingga menembus batas tidak hanya membacakan atau mendeklamasikan puisi karya orang. Tapi, saya sudah mulai percaya diri menulis puisi karya sendiri.

Seiring waktu, Mimpi ini seakan mendapat berkah. Sewaktu kuliah saya memiliki cukup banyak kegiatan baik di internal kampus dan di luar kampus. Dari kisah di organisasi hingga kisah cinta selama menjadi mahasiswa. Kisah pilu kehidupan menjadi seorang anak kernet yang di PHK yang mencoba terus berjuang agar bisa tetap lanjut kuliah. Kegiatan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat, memancing ambisi saya untuk menuliskan segera. Sebagian besar hanya menjadi angan yang tak kunjung berarti menjadi nyata. Saat itu kebanyakan menguap bersama kehidupan yang berbeda. Tapi, keinginan itu tetap ada. Lanjutkan membaca “MIMPI MENJADI SEORANG PENULIS”

Saya Merindukannya

download

Tiba-tiba saya merindukan seseorang yang dulu seringkali kali datang ke asrama. Kadang saya masih dalam keadaan ngantuk, belum begitu puas tidurnya, dia datang bersama ibunya. Dengan senyum dan sapaan yang ramah dan selalu membuat suasana menyenangkan. Dia selalu datang dengan rasa hormat yang tinggi dan sangat menghargai saya sebagai seorang guru.

Dia adalah gadis kecil yang duduk di kelas 6 SD di salah satu sekolah swasta di Malang. Dia datang bersama ibunya (selalu). Pagi-pagi, jam 7 pagi, atau kadang sepulangnya dari kegiatan di sekolah. Dia adalah anak yang kritis dan penuh bakat. Suatu hari dia bercerita bernah bertanya pada gurunya kenapa 0 per 0 itu hasilnya tidak terdefinisi? Sang Guru tidak bisa menjawabnya. Dia juga menanyakan banyak rumus-rumus geometri dari mana datangnya? kenapa bisa begitu rumusnya? Jawaban yang dia dapat adalah jawaban sini gurunya.

Dia punya bakat di bidang bahasa inggris, sering mengikuti lomba-lomba stroy telling. Dia punya minat juga di sains, dan dia punya minat di matematika. Dia selalu tampak bersemangat ketika belajar. Bahkan ketika dia terlihat capek karena banyak aktivitas yang dilakukan, dia selalu menampakkan sikap yang positif dan yang pasti tidak pernah saya dengar ada nada mengeluh. Lanjutkan membaca “Saya Merindukannya”

WISUDA KE-3 SEBAGAI PAMUNCAK

IMG_2995Setidaknya saya bisa berbangga hati untuk hari Sabtu, 24 Februari 2018 saja, karena saya sadar bahwa tantangan sesungguhnya adalah setelahnya.

Menyandang predikat terbaik dari sekian banyak lulusan S3 periode wisuda 91 Universitas Negeri Malang tentu menjadi impian saya sejak dulu. Menjadi pamuncak yang namanya paling sering disebut tentu begitu mengharukan. Sepertinya untuk wisuda saat iini, sayalah yang “TERMUDA”, yang menambah bahagia ini begitu terasa.

Perjalanan ini tidak mudah, banyak hal yang sudah saya lalui, termasuk keinginan untuk CUTI karena rasa frustasi yang tak tertahankan. Tapi saya sangat bersyukur memiliki Keluarga yang sangat peduli, yang tiada henti terus mensupport dan berdoa. Memiliki kedua orang tua yang terus mengingatkan. dan memiliki sahabat yang bisa diajak untuk berbagi cerita dan bersenda gurau.

Memang ini bukan bahagia yang utuh, seperti saat pertama kali saya mengawali perkuliahan S3. Karena sahabat2 saya saat ini masih ada yang sedang berjuang. Doa ini dan segala kerendahan hati ini selalu terpanjat, agar sahabat2 saya bisa selesai secepatnya.

Hingga pada tahap ini, banyak pihak sudah membantu mulai dari Bapak I Nengah Parta sebagai orang tua di Malang dan pembimbing yang detail dan menumbuhkan semangat optimis. Mr. Tony Barry sebagai sponsor. LPDP sebagai pemberi dana untuk research. Unmas Denpasar yang sudah membantu untuk penerbitan artikel. Promotor I dan II, Bapak Prof. Toto Nusantara dan Bapak Dr Subanji. Bapak Ardana Made sebagai penguji dari Undiksha. Semua Keluarga, sahabat, dan semua pihak yang tidak bisa saya sebut satu persatu-satu.
Terima kasih atas doa dan dukungannya.

Ucapan syukur dan parasuksme juga saya haturkan kehadapan Luluhur, Kawitan dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena berkat waranugrahanya saya bisa pada tahap ini.

Salam hangat.

IMG_3004