KEHIDUPAN

Abu-abu kehidupan

Di setiap sudut-sudut jalan terukir manis bersama rintihan

Di dalam kesunyian apalagi keramaian sudah menjadi persamaan

Tak ada pembela tak ada pembenci semua menjadi satu aroma dalam santap kopi pagi

Terasa asing memang untuk tidak mengumbar…

Betapa keterdesakan merupakan pemenang…

Yang penting berani untuk menyampaikan…

Pastinya kemenangan akan di dapatkan…

Kini uang yang menjadi pemenang dari setiap perjalanan yang mestinya harus dikenang,

Orang jujur sudah tidak di perlukan lagi, karena memang sudah bukan zamannya lagi..

Untuk itu, berhati-hatilah jika hendak menjadi orang yang jujur…

Aku berdiri di trotoar jalan

Berusaha memandangi setiap gelapnya malam

Di setiap sisi ku bidik dengan nada yang gemetar karena haruku..

Si nenek yang pincang yang mencoba peruntungan..

Entah sang anak sudah tiada atau pura-pura tiada..

Tapi inilah realita, realita untuk abu-abu sebuah kehidupan..

Ketika ku bertanya

Penting menjadi orang baik atau baik menjadi orang penting ??
berjuta-juta orang dengan bangganya menjawab

“penting menjadi orang baik (titik)”

Jawaban itu memang tak salah, tapi masih meragukan karena sampai saat ini belum pernah saya mendengar ada seorang ahli atau pendeta atau ulama atau pemangku atau siapapun yang memberikan definisi atau arti dari sebuah ‘kebaikan’ apa arti baik? Siapa yang pantas kita sebut baik? Orang baik itu rupanya seperti apa? Nyaris aku tak bisa membayangkannya…

Ketika kampanye berlangsung semua orang penting mengaku dirinya baik dengan mengorbankan nuraninya dan hatinya yang lugu, mereka meneriakkan kalimat-kalimat emas yang membuat sang derita menjadi semakin menderita, membuat sang miskin menjadi semakin miskin, dan membuat sang lemah menjadi semakin lemah. Hampir aku tak mau hiraukan ini …

Survey membuktikan bahwa sebagian besar orang memilih penting menjadi orang baik karena orang baik itu pasti disukai banyak orang, orang baik otomatis penting, dan kehidupan orang baik jauh lebih bahagia, hehhh benarkah demikian ?? (saya kembalikan semuanya)

Untuk sementara saya bisa simpulkan bahwa bagi siapapun memilih penting menjadi orang baik, jadi cukup hanya menjadi orang baik saja, tidak penting bagi kalian untuk menduduki kursi tertinggi menjadi seorang pemimpin karena yang terpenting adalah menjadi orang baik, kita lihat seles yang keliling dari rumah satu ke rumah kedua, mereka adalah orang-orang yang baik (kebanyakan) tapi apakah cukup dengan keadaan seperti itu ???

Dengan sedikit bumbu ini sebagai pembanding sebuah pernyataan awal, akhirnya banyak orang yang ragu dan akhirnya memilih “penting menjadi orang baik dan baik menjadi orang penting”

Karena tanda penghubungnya menggunakan kata ‘atau’ jadi gak masalah jika kalian memilih dua-duanya.. dengan pernyataan yang baru, apakah bisa kita anggap benar atau pilihan yang tepat dan sempurna ???

Saya serahkan sepenuhnya kepada para pembaca yang budiman…

Dengan beberapa ilustrasi bahwa :

Orang melakukan demontrasi pada intinya adalah orang baik karena mereka menyampaikan aspirasi tapi sayang mereka bukanlah orang penting sehingga tidak bisa berbuat banyak.

Para petinggi di negeri ini adalah orang-orang penting tapi apa yang mereka lakukan?? mereka menghalalkan segala cara untuk kepentingan pribadinya, seperti melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme.

Dan terakhir para pejabat yang jujur, tegas, dan tulus akan menimbulkan iri dari kehidupan disekitarnya, dan hal terparah yang mungkin saja bisa terjadi adalah ‘main dukun’

Hehehehheeee….

Inilah bagian kecil dari abu-abunya kehidupan

Suramnya benar dan salah

Antara kebenaran dan kesalahan hampir tak bisa dibedakan…

Semoga ini bisa menjadi bahan refleksi bagi kita semua,. Menjalani hal yang rumit dan penuh dengan lika-liku permasalahn sudah menjadi kodrat kita sebagai manusia,, seperti yang tercantum dalam bagawadgitha:

Karena itu, jayalah dan bangkitlah

Taklukkan musuh dan nikmatilah kerajaan yang sejahtera

Oleh-Ku sebenarnya semua telah hancur musnah

Jadilah engkau alat belaka

Oh arjuna ”

    Ini adalah salah satu wejangan Sri Kresna kepada Arjuna ketika mengalami kebimbangan menjalani hidup, di satu sisi dia harus memperoleh haknya atau kerajaan, disisi yang lain dia harus menghadapi keluarganya sendiri, guru-gurunya dan semua sahabat-sahabatnya waktu kecil. Jadi kalau di ambil dari kisah mahabratha sesungguhnya gema akan abu-abu kehidupan sudah di mulai, hanya saja kita belum menyadarinya. Tapi untuk sebuah kemenangan jiwa, kita harus belajar dari perjalanan Panca Pandawa dan kesetiaannya pada kebenaran.

5 : 100 = 1 : 20

Dimanakah posisi kITA ??