“manusia adalah makhluk sosial, kata-kata yang sangat familiar bukan?. Pastinya rekan-rekan sudah puluhan kali mendengarnya. Itu merupakan salah satu sifat manusia dalam kehidupan sehari-hari sebagai salah satu ciptaan Tuhan yang tidak dapat hidup tanpa kehadiran orang lain. Dalam berbagai aktifitas, kita selalu berhubungan dengan seorang bahkan dengan sekelompok orang dengan pola interaksi yang sama, tetapi juga berbeda. Interaksi-interaksi tersebut dapat merupakan sebuah “organisasi” baik sederhana maupun kompleks. Jadi, secara hematnya organisasi merupakan sekelompok orang (dua atau lebih) yang secara formal dipersatukan dan saling berinteraksi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.

Dalam hal ini, saya tidak akan membahas panjang lebar tentang apa itu organisasi, dan bagaimana organisasi tersebut berjalan agar bisa mencapai tujuan yang diimpikan, karena mengingat betapa potensi intelektualitas rekan-rekan untuk memikirkan dan menalarkan hal ini sehingga menjadi sangat mudah untuk dilakukan. Akan tetapi di sini saya akan lebih menyoroti tentang potret ke-apatisan rekan-rekan tentang betapa penting dan mulianya organisasi tersebut. Hal inilah yang kadang rekan-rekan abaikan sehingga menganggap segala sesuatu yang berbau organisasi di dalam kampus pada khususnya menjadi momok yang mesti dijauhi karena kuliah adalah nomer satu dan kuliah akan terganggu dengan aktifnya kita di dunia organisasi.

Satu yang menjadi catatan kita adalah hal ini bukanlah ocehan lembut belaka tetapi merupakan sebuah realita yang sudah mendarah daging di dalam sanubari para rekan-rekan kita yang sudah sendari awal mendeklarasikan dirinya sebagai mahasiswa yang anti-organisasi. Bukan asal tahu atau memaksakan kehendak untuk cenderung konsen pada masalah yang satu ini. Tetapi rasa simpati yang besar yang ingin saya tuangkan untuk masa depan kita. Seperti kata Rancho dalam film 3 Idiot “kuliah bukan untuk menjadi orang yang sukses  tetapi untuk menjadi orang yang besar, dengan menjadi orang yang besar maka dengan sendirinya kesuksesan itu akan muncul dan mendatangi kita”. Dengan hanya konsentrasi di kuliah kemungkinan besar kita tidak akan di ajarkan untuk bisa mengamalkan motto tersebut karena di dalam dunia kuliah kesuksesan itu lebih penting dari sekedar menjadi orang yang besar, karena kusuksesan lebih identik dengan pencapaian sebuah tujuan akhir bukan pencapaian sebuah proses. Akan tetapi jika kita telusuri perjalanan hidup kita di dunia ini, kita harus menjalani sebuah proses untuk bisa berbaur dan bersosialisasi dengan teman, tetangga, rekan kerja, maupun oraganisasi-organisasi di dalam lingkungan masyarakat, seperti PKK, arisan, organisasi di banjar, organisasi di lingkungan kerja, dll., yang pasti semuanya perlu persiapan mental dan pengetahuan.

Penjelasan ini tentunya kurang cukup untuk meyakinkan bahwa organisasi di dunia sekolah maupun kuliah sangat penting untuk kelangsungan hidup kita karena sekurang-kurangnya ada dua factor yang sangat mempengaruhi hal ini, yakni: factor internal dan eksternal. Factor internal yang dimaksud adalah factor minat/kemauan serta kesadaran yang datang dari diri sendiri untuk melakukan suatu hal. Yang kedua fImageactor eksternal, factor eksternal bisa berasal dari orang tua/wali, teman/sahabat, pacar, dll. Yang paling ironis saya rasakan selama mengikuti organisasi adalah factor pacar, hal ini menurut saya sangatlah memprihatinkan dan menyedihkan karena gara-gara pacar tidak setuju untuk kita ikut organisasi dengan alasan waktu untuk kita bersama akan berkurang, tidak bisa memeberikan perhatian yang lebih, dll, kita menjadi lembek dan menuruti kata-katanya. Tapi tidak semuanya yang seperti ini, ada juga karena si pacar ikut organisasi kita juga ikut, dan akhirnya bisa berorganisasi bersama tanpa meninggalkan semangat profisionalisme berorganisasi (4 jempol buat teman-teman yang bisa seperti ini). Orang tua adalah penghambat lembut, slow, arif tapi mematikan, orang tua kadang yang dengan lugunya atau dengan nada yang mirip angkatan bersenjata, memberikan nasihat bak peri agar kita konsentrasi hanya pada kuliah, jangan ada embel-embelnya lagi, cukup hanya kuliah titik. Nah, lembut, slow, arif tapi mematikan bukan?, mematikan karakter kita untuk berkembang dan ingin menambah relasi. Dan hal yang paling mempengaruhi adalah “kesadaran, minat, dan niat” yang timbul dari diri sendiri. Hal ini lah factor terbesar yang mampu mendobrak factor-faktor yang lain untuk melakukan sesuatu atau dalam hal ini bergabung d organisasi. Kalau sudah ada niat di tambah kesadaran yang tinggi, maka apapun bisa terjadi, seperti slogan “there is a will there is a way”.

Nah panjang lebar sudah saya berkoar-koar dan saya harap teman-teman, rekan-rekan semua masih apatis terhadap organisasi, karena jika tidak, bakal menambah jatah orang-orang besar di dunia ini, yang dapat dengan mudah meraih kesuksesan tanpa harus bersusah payah mencarinya. Sebagai bukti tentang kesungguhan tulisan saya adalah dalam setiap CV (lamaran kerja) pasti tercantum descriptor yang menyatakan ‘pengalaman organisasi’ (teman-teman bisa cek sendiri). Atau teman-teman bisa tanyakan latar belakang pemimpin-peminpin yang dudah sukses di bidangnya.

Akhir kata semoga tulisan ini bisa membuat teman-teman semakin ragu dan bimbang karena suatu keputusan yang baik berawal dari sesuatu yang tidak baik. Terima kasih

 

Penulis adalah mahasiswa Hindu FKIP Pendidikan

Matematika angkatan 2007 dan

 pernah menjabat sebagai ketua KMHD Unram tahun 2010.