Tag

Siapa tak mengenal dua sosok yang sangat legendaris ini, Newton dan Einstain. Dua sosok ini sudah menjadi inspirasi dari hampir semua warga dunia. Bukan hanya dari penemuan-penemuannya yang gemilang, akan tetapi pemikiran-pemikiran yang brilian dan luar biasanya juga mampu mempengaruhi kehidupan dunia, salah satunya adalah dunia pendidikan. Dua sosok ini memliki era/zaman yang berbeda dalam mendefinisikan dan mengaplikasikan pendidikan.

Era Newton adalah era dimana pendidikan didominasi oleh pendekatan ekonomi, lebih tepatnya the production function approach, yang diibaratkan sebagai suatu proses produksi. Proses produksi dimulai dari adanya raw input dan instrument input, kemudian masuk dalam suatu proses, yang akan menghasilkan out put. Anak merupakan raw input yang dicampur dengan perilaku guru dan kurikulum sebagai instrumental input, kemudian dimasukkan ke dalam proses, yang akan mengahasilkan kemampuan dan keterampilan baru sebagai out put.

Pendekatan fungsi produksi ini mengajarkan bahwa dalam praktik pendidikan, out put merupakan fungsi input. Ini cocok dengan pemikiran pendidikan yang tidak dapat menguraikan dan menjabarkan proses, karena itu proses sebagai the black box, kotak pandora. Berdasarkan pemikiran inilah lahir berbagai kebijakan pendidikan untuk meningkatkan kualitas out put, termasuk di Indonesia. Secara sepintas Indonesia bisa dikatakan sebagai salah satu pelaksana pendekatan fungsi produksi ini, karena mulai dari kurikulum 94 hingga CBSA di tahun 2000, pendidikan di Indonesia cenderung hanya menekankan pada hasil akhir bukan dari segi proses pencapain.

Pendekatan fungsi produksi ini menuai banyak protes setelah berlangsung cukup lama. Pemikiran pendidikan yang diterjemahkan ke dalam praktik yang bertumpu pada pendekatan fungsi produksi adalah  a-sosial dan bertentangan dengan fitrah manusia, yang memiliki hati dan rohani, yang tidak dapat disamakan dengan barang. Maka dari itu, pendekatan pendidikan ini dianggap gagal.

Pendidikan adalah suatu proses interaksi manusiawi yang penuh dengan ketidakpastian. Dalam proses interaksi ini semua aspek yang dimiliki seorang manusia: pengetahuan, nilai-nilai, sikap, kemauan, dan sebagainya akan muncul dan saling berinteraksi secara simultan. Oleh karena itu, tidak mengherankan dalam menangani pendidikan berbagai rancangan sebab akibat langsung sudah terbukti gagal. Pendidikan era Newton sudah berlalu, muncul pendidikan era Einstain. Out put pendidikan yang merupakan interaksi penuh ketidakpastian tersebut ditentukan oleh kualitas interaksi itu sendiri. Interaksi yang positif akan melahirkan energi yang positif yang akan menghasilkan out put pendidikan yang berkualitas. Sebaliknya interaksi yang negatif akan melahirkan energi yang negatif yang akan menjadikan mutu out put pendidikan rendah. Jadi, pemikiran baru pendidikan melihat proses pendidikan merupakan kumpulan dari berbagai interaksi tersebut. Tugas pendidik, dari aspek manajemen, adalah mengelola berbagai interaksi tersebut agar tercipta interaksi yang positif.

Nah, sekarang kita tahu bahwa kedua era pendidikan sosok ilmuan yang kita idolakan memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Namun, mereka terbukti jaya di eranya karena memiliki sebuah keyakinan yang besar bahwa apa yang ia yakini benar-benar mereka laksanakan dan terapkan. Saat ini kita masih hidup di era Einstain dan kita masih memiliki banyak peluang untuk mengikuti jejak legenda relasivitas ini, tentunya untuk mewujudkan manusia yang seutuhnya melalui pendidikan.

Tulisan ini terinspirasi penuh dan bersumber dari

 buku “Pendidikan dan Demokrasi dalam Transisi” penulis Prof. ZAMRONI, Ph.D. penerbit : PSAP

Saya sebagai penulis mengucapkan banyak terima kasih atas ilmu yang diberikan

Salam terhangat

Kadek adi Wibawa, S.Pd.