SEKEHA TERUNA TERUNI yang TERLUPAKAN

    Di antara sekian banyaknya organisasi kepemudaan Hindu yang ada di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sekeha Teruna Teruni menjadi wadah pemersatu generasi muda Hindu yang berpusat di Banjar yang kini sedikit terlupakan. Sekeha teruna teruni bahkan menjadi organisasi kepemudaan yang sangat tidak populer dan kurang di senangi kalangan muda Hindu. Alasanyapun beraneka ragam, ada yang memang tidak suka berorganisasi (padahal kita kan makhluk sosial sopp yaaa… yang kata guru2 kita… kita tidak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain) terus kegiatan yang kurang populer karena terlalu tradisional … ada yang suka menyibukkan diri di luar (padahal berorganisasi kn ga makan waktu lama sopp yaa ? betul ga??) hingga ada yang bilang “malu” malunya pun banyak jenisnya… malu karena emang bener malu, mungkin belum punya temen, atau dan lain2.. malu karena pura-pura malu… dan banyak lagi sopp.. alasan-alasan inilah yang menjadikan Sekeha teruna Teruni semakin dijauhi dan kurang peminat. Hal ini yaa… diperparah lagi oleh kurangnya dukungan dan motivasi dari banjar (waduhh… ne gawat nee sopp) khususnya Bapak/Ibu yang sudah menyatakan diri sebagai anggota banjar. Sungguh ironis dan menyedihkan L

    Di tengah-tengah fenomena ini, saya akan bagi-bagi pengalaman dimana saya bukan bermaksud untuk menyombongkan dirine sopp yaa.. tapi lebih ke “bagi2 pengalaman sopp” ga lebih koq… kebetulan aja saya pernah aktif di salah satu Sekeha Teruna Teruni yang berada di kawasan Perumnas Tanjung Karang Permai tepatnya di banjar Tri Parartha. Saya aktif di Sekeha Teruna Teruni yang bernama STT PUSAR alias Sekeha Teruna Teruni Puspaani Saraswati, temen-temen pada ga tau yaa? (bagi tmn2 yang ada di kawasan Lombok saya yakin tau, tapi kalau di luar lombok, mungkin bisa nanya2, hee). Saya ngerasaain kekuatan untuk ngaturang ngayah disini, kebersamaan yang dibangun cukup solid.. yang buat saya tambah termotivasi untuk aktif disini sopp… kegiatannya itu ragam banget.. mulai dari pertunjukan seni waktu acara hiburan saat Piodalan, seperti tari-tarian, dll buat kwangen bersama, sembahyang dan kadang mekemit bersama, hingga ngadain Rsi Yadnya soppp atau memberikan punia kepada para pinandita/pemangku yang membutuhkan ehhh memerlukan maksudnya… (biar ga ambigu sama kata dasarnya, hehehe) semua kegiatan ini dilakukan dengan penuh kesadaran untuk mempersatukan dan memupuk rasa kebersamaan dan sambil belajar beryadnya… karena kita yakin yadnya adalah satu-satunya jembatan untuk menuju Tuhan. Yaaa walaupun dalam jumlah keaktifan temen-temen masih jauh dari yang diharapkan tetapi sopp… semangat kita tetep membara. Seperti kobaran sebatang lilin di tengah kegelapan (ga nyambung yaa… heheee… berharap ada lilin lilin lain yang menyambut)

    Menurut saya sopp yaa… Sekeha teruna teruni itu merupakan salah satu solusi untuk mencegah adanya “konversi agama”. Selain faktor ekonomi, ikatan perkawinan, dan adat yang kadang-kadang sedikit kaku yang menjadi faktor penentu adanya konversi adalah kurangnya pertemuan generasi muda yang dilakukan di banjar, ga perlu yang formal sopp… yang penting dapat sekedar komunikasi/simakrama… ini akan menjadikan kita lebih merasakan rasa kebersamaan dan kita bisa mendiskusikan berbagai persoalaan terkait dengan agama dan mungkin yang lain… gimana soppp… betul apa bener sopp??? (pasti jawabannya diantara keduanya, hehee)

    Harga mati menurut saya sopp.. Hindu harus dijaga dan salah satu caranya mulailah untuk aktif di Sekeha Teruna Teruni (dari hal kecil dulu soppp). Kegiatannya yang sederhana-sederhana ajj dulu biar bisa bagi waktu… yaa ga bisa seminggu ngumpul, sebulan sekali, tiga bulan sekali, atau enam bulan sekali, gpp sopp… yang penting seperti tadi “ada komunikasi/simakrama” rasa malu adalah wajar untuk mengawalinya soppp… lama-lama pasti bakal berubah jadi yang lebih baik.

    Gitu ajaa dulu sopp yaaa… saya kq jadi laper nee… dari tadi ngomongnya sopp.. sopp ajj hee… gosok gosok kena gigi… besok kita sambung lagi .. hehee

Matur suksma…

SALAM TERHANGAT

Kadek Adi Wibawa, S.Pd.