PROBLEMATIKA MATEMATIKA, konsep perkalian sederhana

  1. Mengapa dikatakan konsep 4 x 3 tidak sama dengan 3 x 4 ?

    Pertanyaan ini sering sekali ditanyakan oleh siswa yang kritis pada saat guru mengajar dan siswa yang sudah mempelajari konsep ini kemudian mereka mendiskusikan sama teman2nya.. “kenapa bisa beda padahal kan hasilnya sama.”

    Penjelasan :

    Hasil kali 4 x 3 memang sama dengan hasil kali 3 x 4, yaitu 12.

    Konsep 4 x 3 adalah penjumlahan berulang 3 + 3 + 3 + 3. Konsep 3 x 4 adalah penjumlahan berulang 4 + 4 + 4. Untuk meyakinkan dapat dikemukakan contoh tentang minum obat. Kalau tertulis 3 x 1 kapsul sehari berbeda dengan kalau tertulis 1 x 3 kapsul sehari, meskipun banyaknya kapsul yang masuk dalam badan sama yaitu 3 kapsul. Dampaknya dapat sangat berbeda bukan?

    Nah inilah penjelasan yang menurut saya sangat masuk akal untuk menjawab kenapa konsep 4 x 3 tidak sama dengan 3 x 4.

  2. Masih dalam perkalian. Perkalian yang kita kenal adalah penjumlahan yang berulang (benar apa betul? ) dengan mempelajari konsep penjumlahan lebih awal maka kita akan lebih mudah untuk mempelajari konsep perkalian (benar apa betul? ) akan tetapi pernahkah kita terfikir dan mengalami bahwa ada sedikit permasalahan dalam perkalian dengan konsep penjumlahan berulang, permasalahan apakah itu?? We look together..

    3 x 2 (tiga kali duanya) = 2 + 2 + 2 
    2 x 3 (dua kali tiganya) = 3 + 3

    3 x (tiga kali setengahnya) = + +  

    x 3 (setengah kali tiganya) = ….. ???? gimana caranya menuliskan setengah kali tiganya

    Atau 1 x 3 = ……. ??? satu satupertiga kali tiganya…. gimana nulisnya dalam penjumlahan yang berulang….

    Penjelasan :

Pada gambar 1 menunjukkan bahwa x 3 = (setengah kali tiganya) hasilnya atau 1 begitu juga gambar 2 menunjukkan bahwa 1 x 3 = (satu satupertiga kali tiganya) hasilnya 4. Jadi jenis perkalian pecahan dengan bilangan bulat atau pecahan dengan pecahan memang sulit untuk dituliskan dalam penjumlahan yang berulang dengan mencacah, melainakan harus menggunakan bantuan grafik atau diagram seperti di atas.

Semoga penjelasan ini bermanfaat dan bisa menjadi bahan diskusi untuk kita semua…

Berdasar Sumber: Menjawab 4 x 6 atau 6 x 4

Terima kasih.

Iklan

Penulis: adimath17

Mahasiswa doktoral pendidikan matematika Universitas Negeri Malang. Peneliti PTK, Proses Berpikir, dan defragmentasi struktur berpikir. suka traveling (mendaki, air terjun, wisata pedesaan) suka main gitar, nyanyi pernah jadi ketua organisasi pengen banget jadi penulis buku, peneliti yang produktif dan aplikatif pengen punya bisnis

45 thoughts on “PROBLEMATIKA MATEMATIKA, konsep perkalian sederhana”

  1. hal di atas berlaku untuk persamaan ataupun perkalian yg diikuti satuan,
    untuk perkalian murni menggunakan logika di atas sangat tidak efisien.

    1. bisa memberikan contoh ga? apa maksudnya persamaan ataupun perkalian dengan satuan itu seperti apa?
      dan maksudnya perkalian murni itu bagaimana?
      sehingga jelas yang maksud tidak efisien itu yang mana

      trima kasih

  2. Pak Adi, lebih dahulu mana diberikan ke murid, pelajaran yg bapak paparkan di atas atau sifat2 perkalian? Karena salah satu sifat perkalian itu komutatif. Kalau diajarkan sifat-sifatnya dulu, ya wajar murid mengabaikan posisi angka itu dalam penulisan, misal apakah 3×4 atau 4×3 sama saja karena sifat komutatif.

    1. yang pertama di ajarkan tentu konsep perkalian karena itu terkait dengan konsep penjumlahan yang di dapat siswa sebelumnya.. setelah siswa paham akan konsep perkalian, baru dikenalkan yang namanya sifat-sifat operasi pada bilangan.

  3. Saya teringat sewaktu saya mengikuti kuliyah bapak Prof Ipung Yuwono. Beliau sempat menyinggung masalah konsep perkalian seperti atas. Menurut beliau, hal tersebut tidak perlu dipermaslahkan, karena bergantung pada bahasa. Mengapa 3×4 ada sebagian yang mengartikannya sebagai 3+3+3+3, hal ini karena di jenjang setingkat SD terutama di jawa timur yang saya tau 3×4 dibaca/diartikan “tiga dikali empat”, padahal dalam bahasa inggris diartikan “tiga mengkali empat”. Yang pertama kalimat aktif,dan yang satunya kalimat pasif.Sehingga wajar kalau muncul problem seperti di atas.

    1. terima kasih sudah menambahkan dari sudut pandang yang lain mas dana…
      hanya saja kalau kita bawa ke kehidupan nyata terutama di dunia kedokteran, hal ini menjadi hal yang sangat berpengaruh..
      3 x 1 dan 1 x 3 resep dari dokter adalah 2 hal yang berbeda…

      1. sedikit share gan dari tanggapan prof. Yohanes Surya :

        Matematika GASING: 6 x 4 atau 4 x 6 ?
        Berapa jeruk dalam 2 kotak berisi masing-masing 4 jeruk?
        Jawabnya adalah 4 jeruk + 4 jeruk

        Kalimat “Berapa jeruk dalam 2 kotak berisi masing-masing 4 jeruk ?”
        boleh ditulis

        2 kotak x 4 jeruk/kotak =

        disingkat

        2 x 4 jeruk =

        Jadi

        2 x 4 jeruk = 4 jeruk + 4 jeruk

        Selanjutnya kita tulis
        2 x 4 = 4 + 4 (kesepakatan)

        Dengan kesepakatan itu kita boleh menulis :
        6 x 4 = 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4
        4 x 6 = 6 + 6 + 6 + 6

        Kesimpulan:

        Ketika menghitung 6 x 4 kita membayangkan menghitung jumlah jeruk dalam 6 kotak berisi masing-masing 4 jeruk. Jadi 6 x 4 = 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4

        Ketika menghitung 4 x 6 kita membayangkan menghitung jumlah jeruk dalam 4 kotak berisi masing-masing 6 jeruk. Jadi 4 x 6 = 6 + 6 + 6 + 6

        Dengan logika kotak dan jeruk ini, lebih mudah bagi kita untuk mengerti tidak hanya soal-soal cerita perkalian tetapi juga berbagai operasi matematika seperti 28:7 = atau 4a + 4b = 4 (a + b) dsb.

        Matematika itu GASING Gampang AsyIk menyenaNGkan).

        sumber :
        http://sains.kompas.com/read/2014/09/22/20203641/Perdebatan.soal.Angka.4.dalam.Perkalian.4.x.6.atau.6.x.4.?utm_campaign=popread&utm_medium=bp&utm_source=news

  4. 3 + 3 + 3 + 3 = 3 x 4 = artinya angka 3 nya ada 4 buah
    3 + 3 + 3 + 3 = 4 x 3 =4 kali 3 nya
    Logika gampang nya pake yg mana????
    Tergantung bahasanya saudara dan sudut pandangnya

    1. dalam filsafat matematika ada namanya paham “konstruktivis sosial” yang memaparkan bahwa pengetahuan matematika dibentuk berdasarkan kesepakatan sosial.
      dan ada namanya paham absolutis, yang memaparkan bahwa kebenaran matematika adalah mutlak.

      paham konstruktivis hadir setelah absolutis berkembang di dunia matematika yang sebagai kritik bahwa pengetahuan matematika bukan hal yang mutlak benar, melainkan masih bisa dikritisi dan direvisi.

      pendapat mas anang bisa jadi benar, jika itu dapat diterima oleh masyarakat luas. (aliran konstruktivis sosial)

      menurut saya yang paling bermasalah dari konsep perkalian yang beredar di “dunia mayat” adalah, guru tidak memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan reasoning (memberikan alasan) dari jawaban yang diberikan.

      untuk hal konsep perkalian, mungkin perlu juga di sadari/dipikirkan 1 fakta di kehidupan nyata
      yaitu di dunia kedokteran, tentang 3 x 1 = 1 + 1 + 1 (tiga kali satunya) dan 1 x 3 = 3 (satu kali tiganya)
      (i) obatnya diminum pagi, siang, dan sore
      (ii) obatnya diminum sekaligus, entah itu pagi, siang atau sore.

    1. trima kasih mas nisvu…
      sudut pandang kita sepertinya sama dalam melihat masalah yang sedang booming ini.
      masalahnya ada di penanaman konsep perkalian bukan pada sifat-sifat operasi pada perkalian.

  5. Kurang setuju dg contoh konsep obat itu 🙂
    Disana penulisnya merubah variabelnya, jadi wajar “3×1” dengan “1×3″nya jadi beda pengertian.
    Yg pertama 3 x 1 kapsul. artinya variabel “waktu”nya = 3, dan variabel “penggunaan”nya = 1.
    Kalo mau digunakan sifat KOMUTATIF, tentunya ditulis TETAP dengan 1 kapsul x 3..
    Tentu hal ini jadi berbeda pengertian kalo dibandingkan dengan contoh 1 x 3 kapsul, karna artinya berubah jadi “waktu”nya = 1, dan “penggunaan”nya = 3..

    Selanjutnya tentang konsep 3×2 yg diartikan sebagai “tiga kali dua-nya”. Apakah seorang murid yg melihat 3×2 sebagai “tiga-nya dua kali” atau “tiga-nya ada dua” bisa disalahkan oleh guru?
    Disini “3” dan “2” tidak dibatasi oleh definisi suatu variabel seperti halnya contoh “penggunaan obat” di atas. Jadi apakah salah jika 3×2 dijabarkan sebagai 3+3?

    Kalo soalnya seperti ini “Jika 2×3 = 3 +3, tentukan 3×4”. Jika dg pertanyaan ini anak jawabnya 3+3+3+3, barulah si anak bisa disalahkan. Karena dalam soal definisinya sudah jelas.
    #imho

    mungkin bisa sebagai masukan tentang bernalar matematika dengan liat kultwitnya prof Iwan Pranoto disini : http://chirpstory.com/li/231174

    1. trima kasih mas parna sudah berkunjung di wordpress saya.

      pertama, jika ingin mengaitkan dengan permasalahan yang sedang booming, konteks yang sedang dibicarakan adalah konsep dasar perkalian, belum sampai sifat-sifat operasi pada perkalian. tentu itu menjadi dua bahasan yang berbeda

      kedua, jika kita ingin berada pada paham konstruktivis sosial yang konvensional memaparkan bahwa pengetahuan matematika dibentuk berdasarkan kesepakatan sosial, maka jawabannya dari mas parna bisa jadi benar (tergantung kesepakatan yang dibuat di kelas). hal ini di dukung juga di daerah jawa menyebut 3 x 2 itu tigo ping loro atau 3 + 3.

      perlu juga kita mencari, apakah konsep perkalian ini sudah ada yang mendefinisikan?
      jika hanya berupa pendapat orang, baik prof, Dr, Magister, ataupun ahli yang lain jika belum ada kesepakatan bersama dalam wujud definisi maka tentu itu masih bisa di kritisi.. itu sekal lagi menurut paham konstruktivis sosial (dalam kajian filsafat matematika)

      1. Yang menarik dari kasus ini adalah guru yang langsung menyalahkan siswanya yg memiliki pandangan berbeda tentang konsep perkalian serta reaksi masyarakat yang mencari2 mana yg BENAR, mana yg SALAH. Mungkin yang perlu kita perhatikan adalah budaya di masyarakat yang tidak menerima perbedaan. Harus ditentukan mana yg benar dan mana yg salah. Padahal di matematika kita diajarkan untuk bernalar, dan yg terpenting adalah ke-sahih-an, bukan benar salah. Semua ke-sahih-annya tergantung dari argumen yang bisa dipertanggungjawabkan.
        Dalam hal “mendidik”, guru seharusnya tidak langsung serta merta menyalahkan cara bernalar si anak murid. Guru sebagai pendidik sebaiknya mendengar terlebih dahulu argumen dari muridnya.
        Saya gak bilang kalo pendapat seorang profesor atau ahli atau siapapun selalu benar dan tidak boleh dikritisi, saya cuma berusaha mengajak kawan2 untuk mencoba melihat suatu pandangan tentang bernalar matematika. 🙂
        Saya rasa kasus-kasus seperti ini yang membuat orang-orang membenci “matematika”. Siswa digiring untuk mengerjakan matematika dengan satu cara, dan cara yg lain sudah pasti SALAH. Sehingga matematika menjadi pelajaran kaku yang tidak membolehkan adanya kreativitas siswa dalam bernalar.
        Oiya, bagaimana tanggapan adi tentang komentar saya mengenai contoh “penggunaan obat”?
        itu contoh yg selalu dipakai untuk argumen a x b tidak sama dengan b x a kan?
        apakah contoh itu sudah benar?

      2. oiya, apakah adi sudah meluangkan sedikit waktunya untuk membaca kultwit yang saya berikan linknya di atas? bagaimana menurut adi?
        sekali lagi saya tidak bilang kalau kultwit profesor itu adalah kebenaran mutlak yang tidak boleh dkritisi. saya cuma mau tau gimana tanggapan adi dari tulisan tersebut. mohon tanggapannya dan terima kasih untuk waktunya 🙂

    2. sudah saya luangkan waktu saya untuk membaca tulisan dari Prof. Iwan Pranoto, tampak mengarah pada aliran konstruktivis sosial… terdapat paradoks
      “…guru lebih pantas untuk disalahkan…
      Di Matematika, guru bukan sumber kebenaran…
      …Kita sebagai guru”
      bisa cari sendiri apa itu paradoks, dan maksudnya apa? saya kira mas parna pasti bisa menelaah…

      berbicara, sahih, benar atau salah itu tergantung kita sedang berada di paham mana,, bisa baca buku tentang Filsafat matematika. agar pengetahuannya bisa lebih mendasar..
      (saya juga sedang mempelajarinya)

      sudah saya jawab, mengenai 1 x 3 dan 3 x 1, hanya saja secara implisit.. coba pahami lagi..

  6. selamat siang pak adimath17,
    kalau boleh tau apakah artikel ini adalah reaksi dari soal matematika yang diberikan ke anak SD yang lagi hangat beredar di “dunia mayat”? hehehehe
    kalau iya,
    mana ngerti anak SD dikasi penjelasan kayak gini hehehe….
    mungkin saya sedikit ikut nimbrung

    pertanyaanya
    4×6 = …….?

    jawaban anak SD: 4+4+4+4+4+4 =24 (dan disalahkan oleh guru)

    jawaban guru : 6+6+6+6 = 24

    menurut saya kedua jawaban tersebut BENAR, tapi bisa saja salah dalam konteks tertentu.
    kalau pertanyaan guru adalah:
    jika 2×3= 3+3, maka tentukan berapa 4 x 6???

    maka jawaban anak SD tadi baru bisa dikatakan SALAH.
    ———————————————————————————————————————————–

    satu lagi, mengenai penjelasan pak adi pada comment diatas, tentang konsep perkalian, yang diaplikasikan di kehidupan nyata yaitu di dunia kedokteran,
    mungkin bapak tidak pernah sakit (amiiinn) hehehe.
    sangat jelas sekali tertulis 3 x 1 tablet atau 3 x 1 sendok makan(untuk sirup)
    disana terdapat variabel “tablet” atau “sendok makan”

    mohon dikoreksi jika saya salah (karena kesempurnaan hanya milik allah)
    terimakasih

    1. terima kasih mas/pak sudah berkunjung di wordpress saya..
      pertama, saya ingin menyampaikan kalau tulisan saya ini sudah terpublish 10 agustus 2012, (jauh hari sebelum masalah di “dunia mayat” ini muncul)

      kedua, penjelasan ini bukan untuk di sampaikan ke siswa secara eksplisit seperti apa yang saya tulis… tentu saja cara yang sederhana dan menyenangkan d jelaskan ke anak SD, yang terpenting tidak terlepas dari konsep yang ada.

      mas/pak moly sudah memperjelas konteksnya untuk analogi 3 x 1 dengan menambahkan tablet/sendok makan, dan itu menjadi lebih konstekstual menurut saya…
      bagaimana kalau misalnya di balik 1 x 3 tablet, apakah dampaknya jadi berbeda?
      itu perlu di pikirkan..

      benar sekali kesempurnaan hanya milik Tuhan/Allah/Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan sebutan Tuhan yang lain. Tapi manusia sudah diberikan akal untuk menuju kekesempurnaan itu, dalam hal ini, kebenaran dalam matematika, perlu kita cari bersama dan sepakati bersama

  7. saya sangat tertarik membahas permasalahan ini karena disekolah tempat saya mengajar terjadi perdebatan juga :
    4 x 6 = 4+4+4+4+4+4=24 atau 4×6=6+6+6+6 =24
    masalahnya tidak sesederhana ini ko..sebab berkaitan dengan cara penulisan tabel perkalian dan cara membuat perkalian itu sendiri. contoh :
    coba tuliskan tabel perkalian 4 !

    jawab :
    4×1 =4+0 =4
    4×2 =4+4=8
    4×3 =4+4+4=12

    atau
    4×1 = 1+1+1+1 =4
    4×2=2+2+2+2=8
    4×3=3+3+3+3=12

    Nah mana yang lebih simpel cara 1 atau cara 2, tentunya kalau saya logika matematikanya lebih ringkas cara 1. semoga tulisan ini bisa jadi bahan untuk didiskusikan..

  8. Buat Mas Darwis : menurut saya , masalah KONSEP DASAR perkalian tetap harus dijelaskan terlebih dulu. Sedangkang lebih simpel/ringkas atau tidak itu adalah pilihan cara dalam menyelesaikan soal. Di dalam matematika, cara menyelesaikan soal bisa melalui beberapa cara, dalam hal ini pakailah cara yang lebih simpel ( khususnya kalau lagi mengerjakan ujian matematika heheheee….)

  9. ne pertanyaan buat teman2 yang suka matematika ne,,,,
    kenapa perkalian kedua bilangan negati dapat menghasilkan bilangan positif,,,?
    saya masih bingung contoh dalam kehidupan nyata mengenai perkalian kedua bilangan negatif..

    1. kalau secara matematika, kita bisa menunjukkannya dengan cara induktif dan deduktif..
      cara induktif (perhatikan pola)
      3 x (-2) = -6
      2 x (-2) = -4
      1 x (-2) = -2
      0 x (-2) = 0
      (-1) x (-2) = 2
      (-2) x (-2) = 4

      dst
      kalau mau pembuktian formal bisa melihat di buku analisis real…

      untuk contoh dalam kehidupan sehari…
      mungkin bisa dikaitkan dengan ke dalaman suatu kapal selam…

  10. Belajar lagi sob, istilah dokter tulis 3 x 1 maksudnya 3 untuk angka bilangan, 1 adalah membahas tentang waktu yaitu hari, jika sob samakan maksud hitungan doktor dengan ilmu matematika alangkah sia sia anda sekolah, karena waktu 1 hari = 24 jam = 1.440 menit = 86.400 detik, alagkah banyak sekali jika anda ingin menjabarkan hari, tolong pembaca jangan terpengaruh sugesti menyamakan ilmu matematika dengan ilmu logika

    1. trimakasih sudah berkunjung…
      .
      dalam membelajarkan matematika di sekolah, ada 2 hal penting menurut saya. pertama, membuat matematika itu “make sense” atau masuk akal untuk di pelajari dan kedua, untuk bisa membuat suatu konsep menjadi masuk akal, kita perlu untuk berpikir analogi. Dan yang saya lakukan atau paparkan berdasarkan buku karangan Soejadi adalah membuat matematika “make sense” dengan mengajak seseorang untuk berpikir analogi.

      yaa.. ilmu saya masih sangat kurang, saya belum bisa memahami dengan baik antara ilmu matematika dan ilmu logika. ehh… tapi ngomong-ngomong, matematika itu termasuk “ilmu” yaa… karena ada beberapa orang bilang matematika bukan ilmu. faktanya MIPA disingkat jadi Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. bukan Ilmu Matematika dan Pengetahuan Alam (IMPA) hehehee….

    2. 3×1…. 1 disini bukan berarti 1 hari kog sob.. itu artinya obat tersebut wajib diminum sebanyak 3x dan masing-masingnya sebanyak 1 (satu) butir…

      Same way goes to 3×2… apakah ini berati minum obatnya cuma 3x selama dua hari? Lantas, setiap kali minum dosisnya berapa butir?

      Common sense di masyarakat adalah bahwa angka 3×1 atau 3×2 ataupun 10×2 yang tertulis di kemasan obat itu ditujukan untuk dosis konsumsi perhari.. yang membedakannya adalah apakah obat tersebut dikonsumsi sampai habis seperti antibiotik, atau cukup dikonsumsi sampai keluhannya reda…

      Dan artinya pun sejalan dengan penjabaran tulisan Penulis diatas..
      Bahwa 4×3 adalah 3+3+3+3.

      seperti juga hal-nya dengan beli 3 bungkus rokok yang isi bungkusnya masing-masing 20 batang… (3×20)
      dengan membeli 60 batang rokok dengan mengecer 3 batang per transaksi… 20x bayar (20×3)
      ada kemungkinan disana kita akan membayar dengan harga yang berbeda, walaupun pada akhirnya sama-sama akan punya 60 batang rokok.

      yuk sob, kita belajar lagi 🙂

  11. Klo menurut saya,jgnlah konsep resep dokter dijadikan rujukan atau pedoman untuk mengacak/merubah/menyalahkan konsep dasar matematika yg sdh ada.Masalah penggunaan/aplikasinya dalam kehidupan sehari- hari,jelas matematika itu luwes/fleksibel…tinggal tergantung dari varabel2 penyertanya dan mau digunakan dalam hal apa.
    Resep dokter,jelas bukan matematika murni,sdh ada variabel waktu dan variabel jumlah obat yg harus diminum..dan kebetulan variabel jumlah obatnya yg di taruh di belakang.
    Saya lebih sependapat dengan pendapatnya sdr Kadek Parna,Darwis Argodi,Mallamolly,Anang M,dan Dana Arif Lukmana.
    Kasihan anak_anak zaman sekarang,harus dibingungkan dengan masalah seperti ini.

    1. terima kasih sudah berkunjung ke blog saya…
      saya hanya mau bertanya, sejak kapan konsep resep dokter tidak boleh dijadikan rujukan untuk menjelaskan konsep dasar matematika? apakah ada dokter yang koplaian, atau ada UUD 1945 yang dilanggar?
      .
      sebenarnya mas sudah memahami, bahwa tergantung sudut pandang mana yang kita gunakan untuk melihat sesuatu. Kalau dasar ini dipahami dengan seksama, tentu bisa memahami pula sudut pandang yang saya gunakan (ohh yaa,, tulisan ini di blog ini merupakan tulisannya Prof. Soejadi).
      .
      anak-anak yang mana yang mas maksud?
      menurut saya, beruntunglah anak2 zaman sekarang, karena dengan adanya permasalahan seperti ini, dimana matematika bisa disikusikan bahkan bisa diperdebatkan (seperti prof ITB dan Prof Surya). artinya, kesempatan untuk mampu berpikir kritis dan kreatif sangat difasilitasi di era ini.

      sekali lagi tergantung sudut pandang

  12. Saya dari balai bahasa DIY. Kalau dalam dunia bahasa, 3 x masuk (tiga kali masuk): masuknya tiga kali, masuk+ masuk+masuk. Jadi, 3 x 2: 2+2+2

    1. 3x + 2y = (3 x X)+(2 x Y).
      Jika x= mangga, dan y = jambu, maka:
      3 mangga + 2 jambu = (3 x mangga) + (2 x jambu)
      Mangga+mangga+mangga dan jambu+jambu (yang belakang yg ditambahkan).
      Saya setuju jika 3 x 2 = 2+2+2 (yang belakang yg ditambahkan).
      Maaf, saya baru nimbrung krn baru tadi siang anak saya SD kelas 2 jawabannya salah semua karena 3 x 2 = 3+3

      1. analogi sangat bagus dari aritmatika ke aljabar…
        Saya sependapat, kalau 3x “lebih enak” atau “lebih mudah” diartikan sebagai x+x+x, bukan sebaliknya 3+3 sebanyak x kali.

        Hanya saja, saya sedikit koreksi, x dan y menunjukkan suatu bilangan, jadi lebih tepat kalau x = banyaknya mangga (dalam karung), dst

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s