Waktu saya kuliah S1 di Universitas Mataram tepatnya di Fakultas Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Program Studi Pendidikan Matematika, saya memperoleh suatu pengalaman yang cukup menggelitik, yang pasti seputar matematika dan tepatnya pada waktu kuliah Pengantar Dasar Matematika. Tepatnya lagi waktu belajar logika matematika tentang penarikan kesimpulan.

    Temen-temen pasti inget sama yang namanya modus tollens, ponens, dan sillogisme. Ketiga modus ini memang paling populer dalam dunia logika matematika walupun masih banyak lagi antek-antek yang lain yang bisa digunakan untuk menarik suatu kesimpulan.. hee

Singkatnya.. ada salah satu temen saya dari Janapriya namanya Hirjan Junaedi (waktu itu semester 3 klo ga salah) bertanya pada dosen yang sedang mengajar…

(Ketika sedang menggebu-gebunya pak dosen menjelaskan, hirjan mengangkat tangan kanannya dan bertanya.)

“pak gimana kalau keadaannya seperti ini,

Jika Budi lapar maka budi makan

Jika budi makan maka budi kenyang

Kesimpulannya : jika budi lapar maka budi kenyang

(dengan penyampaian yang berapi-api)

Nah gimana tu pak? Apakah bisa di ambil kesimpulan seperti itu? Itu kan sesuai dengan modus sillogisme yaitu



***

(pak dosen tersenyum dan hampir semua mahasiswa mangguk-mangguk “iya yaa..”)

Kemudian pak dosen menyibak keheningan suasana “pertanyaan yang bagus, bagaimana pendapat kalian tentang pertanyaan, siapa nama Anda”

“Hirjan Junaedi pak”

“yaa Hirjan Junaedi”

(semua ga ada yang angkat tangan, hanya merenungi pertanyaan yang di sampaikan oleh Hirjan.. “iyaa yaa.. kq bisa seperti itu kesimpulannya”}

Akhirnya pak dosen memecah keheningan lagi sekali

“pada dasarnya tidak semua hal dapat di logikan, jadi itu merupakan suatu kejadian yang tidak bisa ditarik kesimpulan seperi itu”

(cukup.. dengan lanjut materi lain perkuliahan selesai)

Berangkat dari hal ini saya terus dan selalu berfikir akan hal ini, karena saya belum bisa menerima sepenuhnya jawaban pak dosen waktu itu.. hingga akhirnya saya temukan suatu jawaban yang menurut saya lebih masuk akal dan bisa saya terima, yaitu waktu saya mengikuti perkuliahan pra pasca di universitas negeri malang

Singkatnya…

Saya bertanya tentang kasus yang sama dan pak dosen menjawab

“kesimpulan itu akan benar apabila kedua premis di atas terpenuhi”

Sangat singkat tapi sangat mengena menurut saya

Ini berarti bahwa keadaan ini masuk akal dan bisa dijadikan kesimpulan apabila premis-premisnya bernilai benar…

(inilah sekelumit cerita dari saya, sekian… dan semoga bermanfaat)

Kadek Adi Wibawa, S.Pd.