Matematika Sekolah Vs Matematika Kuliah

       

         Matematika kuliah dan waktu di sekolah sangat jauh berbeda. Seakan matematika di sekolah hanya sebuah titik dalam sebuah bidang datar yang luas. Karakter sebagai kajian ilmu yang abstrak baru terlihat setelah kita kuliah. Sebenarnya apa sich yang buat matematika sekolah berbeda dengan matematika di kuliah, yang apalagi kalau kuliahnya di matematika murni… wahhh akan terlihat dengan jelas perbedaannya.

    Dari beberapa pengalaman diskusi saya peroleh beberapa konjektur bahwa :

  1. Matematika kuliah merupakan matematika formal sedangkan matematika sekolah lebih mengarah ke matematika informal. Kenapa saya katakan demikian? Apa itu matematika formal dan informal?

    Matematika formal sederhananya merupakan matematika yang berisi definisi yang jelas (dapat diterima semua orang/berlaku universal), aksioma yang di dasari atas sebuah kesepakatan dan tentunya dapat di sepakati oleh semua orang, dan teorema2 yang harus dibuktikan secara matematika (dengan pembuktian langsung ataupun tak langsung).

    Matematika informal merupakan matematika yang lebih mengarah pada kejelasan materi atau matematika yang semudah mungkin dapat diterima oleh peserta didik, atau pintu gerbangnya matematika yang sesungguhnya.

    Contoh : dalam matematika sekolah, himpunan didefinisikan sebagai kumpulan objek-objek yang terdefinisi dengan jelas. Dengan definisi ini diharapkan peserta didik mampu memberikan beberapa contoh dalam kehidupan sehari-hari yang merupakan himpunan. Sedangkan pada matematika kuliah (formal) himpunan tidak di definisikan seperti itu, karena akan mengundang sanggahan berikutnya seperti : apa artinya terdefinisi dengan jelas? Apa beda himpunan dengan kumpulan? Dll. Jadi ini yang membuat matematika di kuliah tidak mendefinisikan himpunan secara formal.

    Contoh yang lain : seperti definisi limit waktu SMA dengan kuliah sangat berbeda. Definsi barisan waktu SMA dengan kuliah juga sangat jauh berbeda, difinisi relasi pada materi fungsi.. dan teorema-teorema pada matematika sekolah hanya di tunjukkan beberapa contoh yang “dianggap” dapat diberlakukan sebagai pembuktian, padahal sejatinya tidak, seperti misalnya : jika dua buah garis yang tegak lurus maka hasil kali gradiennya -1.

    Dan banyak lagi.

  2. Matematika kuliah (pure matematika) merupakan ilmu eksak, sedangkan pendidikan matematika (matematika sekolah) merupaka ilmu sosial, yang berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Pengalaman saya kuliah dari zaman lebung sampe sekarang buku matematika sangat jarang di ganti, kalaupun terjadi pergantian paling “perbaikan” atau “penambahan materi” teorema-teorema yang berlaku tetap itu-itu saja dan cenderung tidak berubah. Sedangkan matematika di sekolah, kita harus menyesuaikan pelajaran matematika dengan kehidupan sehari-hari.. belum lagi pengaruh kurikulum nasional, kurikulum internasional (NCTM), bahan ajar yng berubah, karakter siswa juga berpengaruh, keadaan daerah sekitar, dan banyak lagi pengaruh yang lain yang menuntut guru untuk berpikir lebih kreatif.

Dari perbandingan ini, kita bisa bedakan antara tugas “dosen” dengan “guru” atau calon guru yang kuliah di pendidikan matematika. Dosen lebih ke arah memaparkan atau menjelaskan matematika formal sedangkan guru atau mahasiswa yang sedang kuliah di pendidikan matematika sebagai jembatan untuk menjelaskan ke peserta didik dari matematika formal ke matematika informal. Dari kajian matematika yang abstrak ke kajian matematika sebagai representasi keabstrakannya.

Jadi, jelas bahwa tugas dan fungsi mahasiswa di pendidikan matematika dengan matematika murni. Tugas antara Dosen dengan guru, dan tugas antara mahasiswa dan siswa di sekolah.

Kadek adi Wibawa

Iklan

Penulis: adimath17

Mahasiswa doktoral pendidikan matematika Universitas Negeri Malang. Peneliti PTK, Proses Berpikir, dan defragmentasi struktur berpikir. suka traveling (mendaki, air terjun, wisata pedesaan) suka main gitar, nyanyi pernah jadi ketua organisasi pengen banget jadi penulis buku, peneliti yang produktif dan aplikatif pengen punya bisnis

9 thoughts on “Matematika Sekolah Vs Matematika Kuliah”

  1. Terimakasih infonya bli… saya ingin sekali lanjut kuliah mengambil pendidikan matematika tapi masih banyak pertimbangan. Terlebih saya S1 bukan lulusan pendidikan matematika, melainkan komunikasi. Kalau seperti itu apa bisa bli? Terimakasih.

    1. Yg penting ntk mnjdi pertimbangan adalah masa depan/pekerjaan.
      Mslny ntk menjadi seorang dosen studi yg diambil hrs linear (serumpun), itu penting ntk jenjang karier dll.
      .
      Ngambil pendidikan matematika (s2)… qt diasumsikan, 1) ilmu kependidikan kita sdh kuat 2) ilmu matematika sdh bagus.
      .
      Klo mslny dr komunikasi, trs lnjut k pendidikan matematika, ini motivasinya apa dulu?

      1. Terimakasih balasannya bli..

        Waktu SMA, saya suka sekali belajar, apalagi matematika, rasanya bergumul dengan angka nggak seberapa menyeramkan seperti kebanyakan orang bilang. Nilai matematika saya bisa dibilang memuaskan.

        Namun saat kuliah saya mengambil jurusan komunikasi atas beberapa pertimbangan orang terdekat. Kalau dibilang menyesal, nggak seberapa menyesal sih bli, karena saya suka juga dengan pelajaran mengenai media dan jurnalistik, walaupun penjurusan saya kembali memilih yang lain, yaitu komunikasi advertising, bukan jurnalistik. Hmmmmm, saya merasa melenceng terlalu banyak, tapi advertising juga menarik.

        Duh, kelihatan nggak fokus banget ya saya orangnya bli. Saya sempat bekerja di PR agency dan mengambil job freelance menulis. Sesekali hati kecil saya suka mengingat masa SMA dimana saya sangat bagus dalam berhitung, beberapa hasil test psikotest juga menunjukan bahwa saya masih cukup bagus di kemampuan berhitung. Tapi apa itu cukup, bli? Saya pun juga nggak tahu apa semangat saya terhadap matematika masih sama seperti dulu? Saya hanya mengingat betapa suka belajarnya saya, dan ingin merasakannya lagi.

        Untuk karir tentu ingin jadi guru / dosen matematika, ingin terjun ke ranah pendidikan entah itu di sekolah maupun kuliah. Saya ingin punya sesuatu yg bisa dibagi dan diberikan ke orang, menulis juga bagian dari berbagi sih blii..tapi saya kok masih tetep pingin jadi guru yang bisa membagikan ilmu ke anak didiknya ya. Saya ingin menjadi guru matematika yang bisa menulis. 🙂

        Maaf jadi kebanyakan cerita bli..terimakasih.
        Kalau sudah seperti itu baiknya gimana bli?

  2. Klo memang benar2 tertarik sma matematika… saran sya mending kuliah s1 lg ngambil pendidikan matematika… dan matematika di sekolah sangattt jauh berbeda dg kuliah….

    Pengalaman sya ngambil mata kuliah “matematika dasar” d semester 1, sya kira isinya hitung2an aritmatika… ternyata… kalkulus yg dimaksud.. yg isinya slh satunya pembuktian limit fungsi (lumayan jg bagi pemula).
    .
    Ketertarikan sma matematika itu akan bermanfaat spanjang hayat.. bs d bagi sma ponakan (tanpa hrs melalui kuliah formal) sma anak jg.

  3. saya baru saja lulus snmptn di UM dengan jurusan matematika murni, pdhal kmaren saya milih pendidikan matematika sebgai pilihan pertama. apakah bisa lulusan s1 matematika murni melanjutkan studi ke s2 pendidikan matematika?
    terimakasih.

    1. bisa. hanya saja ada beberapa resiko
      1) di s2 belajar ttg ilmu pendidikan dari awal, yang dimana mahasiswa s2 pendidikan matematika “dianggap” sudah memiliki dasar dan banyak pengalaman ttg ilmu kependidikan.
      2) ruang lingkup penelitian yang berbeda sehingga butuh persiapan yang lebih untuk mensiasatinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s