George Polya lahir di Hungaria tahun 1887. Beliau menerima gelar Ph.D di Universitas Budapest. Pada tahun 1940 beliau datang ke Universitas Brown dan kemudian kuliah di Universitas Stanford pada tahun 1942. Dalam proses belajarnya, beliau menjadi tertarik dengan proses penemuan (discovery), yang kemudian menjadi terkenal dengan sebutan proses empat langkah (four-step process) untuk pemecahan masalah (problem solving).

  1. Memahami masalah (understand the problem)
  2. Menyusun rencana (devise a plan)
  3. Menjalankan rencana (carry out the plan)
  4. Melihat kembali (look back)

    Polya menulis lebih dari 250 artikel matematika dan tiga buku yang mempromosikan problem solving. Salah satu bukunya yang paling terkenal adalah “How to Solve it” yang telah di terjemahkan ke dalam 15 bahasa, memperkenalkan pendekatan empat-langkah nya bersama dengan heuristic atau strategi, yang sangat membantu dalam menyelesaikan masalah (solving problems). Buku yang tidak kalah pentingnya dari Polya adalah Mathematical Discovery, volume 1 dan 2, dan Mathematics and Plausible Reasoning, volume 1 dan 2.

    Beliau meninggal pada tahun 1985, meninggalkan matematika dengan warisan yang sangat penting mengenai Problem solving. “Ten Commandments for teacher” (sepuluh perintah untuk guru) dari Polya sebagai berikut :

  1. Be interested in your subject.

    (tertariklah pada subjek Anda)

  2. Know your subject.

    (pahami subjek anda)

  3. Try to read the faces of your students; try to see their expectations and difficulties; put yourself in their place.

    (cobalah untuk membaca wajah siswa Anda; cobalah lihat pengharapan dan kesulitan mereka; posisikan diri Anda dalam situasi itu)

  4. Realize that the best way to learn anything is to discover it by yourself.

    (menyadari bahwa cara terbaik untuk belajar apapun itu adalah penemuan melalui diri sendiri)

  5. Give your students not only information, but also know-how, mental attitudes, the habit of methodical work.

    (berikan siswa anda tidak hanya informasi, tetapi juga tahu-bagaimana, sikap mental, kebiasaan bekerja dengan metode)

  6. Let them learn guessing.

    (biarkan mereka belajar menebak)

  7. Let them learn proving.

    (biarkan mereka belajar membuktikan)

  8. Look out for such features of the problem at hand as may be useful in solving the problems to come — try to disclose the general pattern that lies behind the present concrete situation.

    (melihat keluar untuk menampilkan permasalahan di tangan sebagai kemungkinan yang berguna dalam memecahkan permasalahan yang datang — cobalah untuk mengungkapkan pola umum dari situasi sebenarnya)

  9. Do not give away your whole secret at once — let the students guess before you tell it – let them find out by themselves as much as is feasible.

    (jangan memberikan semua jalan rahasia sekaligus — biarkanlah siswa menebak sebelum Anda menjelaskannya — biarkan mereka mencari tahu sendiri sebagai hal yang layak bagi mereka)

  10. Suggest; do not force information down their throats.

    (menyarankan; jangan memaksakan informasi masuk ke dalam tenggorokan mereka)

    Problem solving kini telah menjadi trend dan perbincangan serta diskusi di kalangan para pendidik, para mahasiswa, dosen, dan hampir semua elemen yang berkecimpung di bidang pendidikan. Sebagai salah satu pendekatan pembelajaran, problem solving dianggap menjadi central point demi sukses atau tidaknya pembelajaran matematika. Sukses belajar matematika adalah sukses menaklukkan setiap masalah yang muncul. Namun, disadari atau tidak problem solving belum menjadi standar yang baku untuk di terapkan di sekolah-sekolah maupun di universitas-universitas, problem solving masih hanya sebuah teori belaka (khusus di indonesia) belum banyak pihak yang beanr-benar menerapkan problem solving dalam proses belajar mengajar. Kenapa hal ini bisa terjadi? Akankah kita terus terbelenggu oleh perilaku “matematika murni” dalam dunia pendidikan terutama pendidikan untuk siswa. Ayolah… kita semua sepakat bahwa matematika kuliah berbeda dengan matematika sekolah. Membedakan antara latihan dengan masalah adalah dualisme yang mesti kita perhatikan dan konkretkan.

Sumber :

Musser, dkk. 2004. Mathematics For Elementary Teacher seventh edition, a Contemporary approach. Amerika: Jonh Wiley & Sons, Inc.

Kadek Adi Wibawa