gambar-guru-mengajar2

Dengan bangganya seorang guru memperkenalkan garis bilangan ketika mengajar materi tentang bilangan bulat. Hingga siswa pun terperangah menyaksikan gurunya menjelaskan dengan penuh semangat setiap bilangan yang ada dalam garis bilangan, dari bilangan bulat, nol, hingga bilangan negatif… hingga sang guru pun dengan penuh bangga mengajak siswa untuk menyimpulkan bahwa bilangan bulat merupakan “bilangan yang terdiri dari bilangan bulat positif, nol, dan negatif”

Wahh… sungguh awal pembelajaran yang sungguh menyenangkan, setelah sang guru memperkenalkan bilangan bulat, maka tibalah saatnya sang guru mengenalkan dan mengajarkan operasi dan bagaimana mengoperasikan bilangan bulat.

Dikeluarkanlah sebuah mobil2an kecil sebagai penambah semangat siswa.

“baik anak-anak, sekarang bapak akan menjelaskan bagaimana cara mengoperasikan atau menghitung hasil penjumlahan dan pengurangan dari dua buah bilangan bulat, untuk itu perhatikan baik-baik”

Semua siswa tampak antusias dalam mendengarkan ajakan dari sang guru dan ga sabar pengen melihat jalannya mobil dalam garis bilangan.

“oke, sebelum mobilnya di jalankan ada rambu-rambu yang harus di taati mobil… misalnya klo operasinya penjumlahan maka ‘mobilnya maju’ apabila operasinya kurang maka mobilnya? “mundur”

Para siswa masih penasaran.

“peraturan yang kedua, jika bilangannya bertanda positif maka bla.. bla.. bla… dan bla bla bla”

Siswanya pun sudah ga sabar mau menjalankan mobilnya.

Sang Guru pun memberikan beberapa contoh soal:

  1. 3 + 4 = . . .
  2. 3 + (-4) = . . .
  3. -3 + (-4) = . . .
  4. 3 – 4 = . . .
  5. 3 – (-4) = . . .
  6. -3 – (-4) = . . . (dalam beberapa kali pertemuan)

Hingga akhirnya siswapun jenuh dan kebingungan dengan menggunakan garis bilangan untuk menyelesaikan operasi dua buah bilangan bulat dan sang gurupun akhirnya menyerah dan mengambil jalan pintas dengan mengatakan kepada semua para siswa yang sudah tampak sedikit loyo bahwa:

Jika positi (+) ketemu negatif (-) maka tandanya berubah menjadi negatif (-),

Jika negatif (-) ketemu positif (+) maka tandanya juga berubah menjadi negatif (-), dan

Jika negatif (-) ketemu negatif (-) maka tandanya berubah menjadi (+).

Sang gurupun sedikit lega setelah memperkenalkan folrmula di atas. Dan siswa di ajak untuk menyelesaikan soal 3 + (-4) = 3 – 4 = -1 (dengan teknik hutang menghutang)…

Dengan beberapa contoh para siswa dapat mengikuti dengan baik hingga pada saat latihan soalpun para siswa dapat mengerjakan dengan baik. (dengan beberapa kali pertemuan atau tatap muka)

Apakah ini yang Anda lakukan ketika mengajarkan bilangan bulat pada siswa SD atau SMP kelas 1?

Apakah ini merupakan sebuah proses pembelajaran yang baik menurut Anda? Atau ada cara yang lebih baik dari ini yang bisa Anda terapkan?

Mari kita analisa bersama.

Di era behavioristik mengkin pembelajaran ini akan sangat di dukung dan di benarkan oleh para penganut teori ini, seperti Thorndike, Watson, Skiner, Hull, dan lain-lain. Karena yang terpenting dalam seuatu pembelajaran adalah stimulus-respon. Adanya stimulus yang baik akan menghasilkan respon yang baik pula. Sehingga proses membangun sebuah konsep berfikir siswa tidak terlalu penting bagi para pengguna teori pembelajaran ini.

Akan tetapi menurut NCTM dan beberapa kurikulum di negara maju dan bahkan Indonesia saat ini menggunakan teori kontruktivis sebagai landasan dalam proses belajar mengajar. Sehingga “membangun atau mengkonstruk konsep berfikir siswa jauh lebih di utamakan dibandingkan hasil akhir sebagai respon dari stimulus” sehingga dapat di tunjukkan bahwa pembelajaran di atas belum mengajak siswa untuk mengkonstruk pemikiran. Dengan demikian ini akan menjadi problematika apabila sebagaian besar guru mengadopsi pembelajaran di atas.

Problematika pertama :

Tidak ada tindak lanjut setelah mengoperasikan dua bilangan bulat melalui garis bilangan. Tujuan besarnya seperti mengkonstruk pemikiran siswa untuk menghitung hasil operasi belum muncul.

Problemaika kedua :

Jalan pintas seperti negatif ketemu negatif jadi negatif atau positif ktemu negatif jadi negatif tidak di dasarkan akan rasionalisasi berfikir siswa. Sehingga timbul pertanyaan di dalam benak masing2 siswa. Kenapa bisa begitu?

untuk jawaban dari penulis mengenai problematika ini, ada di tulisan membangun konsep pengoperasian bilangan bulat

Kadek Adi Wibawa