Untuk menyelesaikan soal pengoperasian bilangan bulat dapat dilakukan dengan membangun (mengkontruksi) pemikiran siswa melalui operasi hitung bertahap.

Misalnya :

4 + 3     = 7

4 + 2     = 6

4 + 1     = 5

4 + 0     = 4

4 + (-1) = 3

4 + (-2) = 2

4 + (-3) = 1

Dst .

Ilustrasi hasil pengoperasian dua buah bilangan di atas mengikuti pola bilangan loncat satu menurun. siswa akan dengan mudah menebak setiap hasil pengoperasian yang dilakukan jika diteruskan. Hal ini tentu membawa pemikiran siswa bahwa 4 + (-1) itu sama dengan 4 – 1 yaitu sama-sama menghasilkan bilangan 3 begitu pula 4 + (-2) dengan 4 – 2. Secara di sengaja bahwa kita telah mengkonstruk pemikiran siswa bahwa positif (+) ketemu negatif (-) itu sama dengan negatif (-). Bukan serta merta guru (pendidik) menjelaskan langsung bahwa positif ketemu negatif sama dengan negatif tanpa tau asal muasalnya dari mana atau rasionalisasinya dari mana.

Hal yang sama juga dapat dilakukan pada penemuan negatif ketemu negatif.

Misalnya :

4 – 3     = 1

4 – 2     = 2

4 – 1     = 3

4 – 0     = 4

4 – (-1) = 5

4 – (-2) = 6

4 – (-3) = 7

Dst.

Tentu dengan mudah bukan? siswa akan menebak hasilnya, jika pengoperasian ini diteruskan. Dan guru juga mudah mengkonstruk pemikiran siswa untuk membuat kesimpulan bahwa negatif (-) ketemu negatif (-) hasilnya negatif (-).

    Menurut hemat saya dan pengalaman dalam mengajar pengoperasian bilangan bulat, hal ini menjadi lebih mudah untuk di ajarkan kepada siswa dalam mengkonstruk pemikirannya menuju sebuah kesimpulan yang umum dari pada mengawalinya dengan menggunakan garis bilangan. Toh juga tujuannya sama, yaitu agar memudahkan siswa dalam mengerjakan soal pengoperasian bilangan bulat.

Untuk operasi perkalian dan pembagian para oembaca yang budiman bisa mencoba sendiri

Terima kasih

Semoga bermanfaat

Kadek adi Wibawa