images (1)  

UAN memang makhluk yang bukan asing lagi di dunia pendidikan Republik Indonesia, tetapi paradigma, implikasi, serta sistem tentang UAN masih menjadi bahan kajian dan perdebatan banyak pihak, bukan hanya dari kalangan menengah ke atas tetapi kalangan menengah ke bawah juga ikut menyuarakan gema UAN yang semakin poluler. Ini menandakan bahwa begitu hebatnya implikasi UAN terhadap roda pendidikan di negeri kita.

    Penilaian UAN yang negatif menjadi perenungan panjang saya sebagai insan yang mencoba terjun di dunia pendidikan di Universitas. Semenjak SMP hingga saya duduk di bangku perkuliahan semester 4, saya masih terkotak bahwa UAN itu adalah barang pembawa dampak buruk bagi proses pendidikan di republik ini. Bukan tanpa alasan, tapi karena memang UAN itu saya rasakan sebagai pembatas antara guru dengan siswa, dimana Si pembatas itu adalah pemerintah yang mencoba mengevaluasi siswa secara serentak dengan pertimbangan matang menurut mereka. Selain itu, beberapa mata pelajaran yang tidak di UAN kan menjadi anak tiri dalam proses belajar mengajar. Ini saya rasakan ketika saya duduk di bangku SMA, dimana siswa senantiasa acuh dan kurang termotivasi terhadap mata pelajaran yang tidak di UAN kan sehingga beberapa guru juga menjadi kurang bersemangat dalam mengajar di bidangnnya dan memutuskan untuk memberikan dan menemani siswa untuk belajar materi yang di UAN kan saja. Belum lagi tuntutan keterampilan tangan dalam melingkari jawaban yang benar, yang sungguh tidak masuk dalam akal sehat sebagai salah satu penentu kelulusan siswa.

    Seiring berjalannya waktu dan pengalaman di dunia pendidikan, baik yang saya alami langsung maupun memperoleh informasi dari narasumber (beberapa guru), seiring itu pula penalaran dan cara pendang saya tentang UAN perlahan-lahan bergeser ke arah yang positif. Yang pertama mengenai sistem, sistem yang digunakan untuk melaksakan UAN sebenarnya sudah melibatkan banyak pihak yang memang benar-bener penting dan berperan di dalam penentuan kelulusan siswa, mulai dari pembuatan soal yang disana guru masing-masing sekolah ikut bekerjasama dengan pemerintah untuk membuat soal, penyebaran kisi-kisi dari pemerintah sebagai representasi soal-soal yang akan di keluarkan sudah di berikan kepada setiap siswa, baik melalui guru, ataupun media cetak dan elektronik. Di dalam pengawasan soal-soal juga sudah sangat ketat karena melibatkan lembaga kepolisian dan guru. Dari sudut pandang siswa, saya rasakan (melalui pengalaman mengajar/privat) siswa menjadi lebih bertanggung jawab dalam belajar karena dituntut untuk bisa mempersiapkan diri dalam evaluasi akhir penentu kelulusan, sehingga aktivitas belajarnya lebih besar dari pada kegiatan yang lain, seperti : bermain. Dari sudut pandang orang tua, saya rasakan (melaui pengalaman mengajar/privat) orang tua lebih was-was terhadap kelulusan sang anak sehingga berlomba-lomba mempersiapkan anaknya untuk mempersiapkan diri sejak dini, baik itu dengan les privat ataupun yang lain. Sehingga menurut saya ada tantangan yang positif bagi siswa, guru, dan orang tua untuk mempersiapkan diri dalam mengahadapi UAN.

    Jadi, melalui proses ini saya berpendapat bahwa UAN itu sangat perlu untuk diadakan karena implikasi positif yang dihasilkan sangat hebat, dan memang proses perjalanan UAN sangat banyak memerlukan kerjasama, baik itu dari pihak pemerintah, sekolah, siswa, dan orang tua itu sendiri, akan tetapi apabila kebijakan ini kita dukung bersama dengan visi positif untuk memajukan Bangsa Indonesia, saya yakin UAN akan menjadi kebijakan yang sangat baik.

Kadek Adi Wibawa