Ekam Sat Viprah Bahudha Vadanti

ekam sat viprah bahudha vadanti

“Tuhan hanya satu, tetapi orang bijaksana menyebutnya dengan banyak nama”

 

Sloka ini pertama kali saya dengar dan baca ketika saya duduk di bangku SD. Saya tidak terlalu tau akan makna dan manfaat dengan adanya sloka ini kala itu. Walaupun guru menyebutkan berbagai sebutan pengganti nama Tuhan seperti Brahma, Wisnu dan Siwa dan dalam tri sandya bait ke-3. Tetap saja saya tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang sloka ini.

Untung saja ingatan saya sangat bagus sehingga sloka ini selalu bisa saya ungkapkan dan artikan.

Pertanyaan ‘mengapa’ terus menyelimuti saya, hingga kemudian saya berpikir kenapa semua itu bisa terjadi..

Sejak lahir hingga SMA saya hidup dalam lingkungan yang mayoritas Hindu dan taat dalam menjalankan agama. Saya tidak pernah merasakan perbedaan yang berarti, hanya saja cara yang berbeda dalam setiap upakara yang dilakukan. Itupun sudah punya solusi yang jelas dengan adanya istilah “desa kala patre”. Rutinitas hindu seakan menjadi bagian sepenuhnya dalam hidup saya. Hingga saya lupa bahwa sebenarnya ada saudara-saudara saya diluar sana yang sedang berperang untuk mendapat pengakuan di tengah-tengah petualangan menjadi kaum minoritas.

Setelah SMA saya merantau, kuliah di salah satu universitas negeri di Lombok. Semester 1 berjalan datar, tidak ada tantangan yang berarti dalam hal agama. Hingga akhirnya seiring berjalannya waktu, perbedaan itu semakin melunjak saya rasakan. Agama A mulai berdebat dengan agama B, Agama C menjelek-jelekkan agama D, agama B tidak pernah mau mengalah dan menyatakan bahwa agamanya lah yang terbaik, begitu juga agama A, C, D, dan seterusnya, tidak ada yang mau mengalah. Semua merasa paling benar, paling hebat, dan paling lengkap.

Dari setuasi inilah saya berpikir

“kalau masing-masing pemeluk agama merasa benar, lalu kemudian siapa yang salah?

“kalau masing-masing agama merasa yang terbaik, lalu kemudian siapa yang terburuk?

“kalau masing-masing pemeluk agama menejelek-jelekkan agama lain, lalu kemudian siapa yang pantas untuk tidak dijelek-jelekkan?

Dan jawaban yang paling bijak diantara yang terbijak adalah

ekam sat viprah bahudha vadanti

“Tuhan hanya satu, tetapi orang bijaksana menyebutnya dengan banyak nama”

Disini saya baru mendapatkan makna tentang maksud dan tujuan dari sloka ini. saya berimajinasi bahwa sesuangguhnya Matahari itu satu, tapi orang-orang menyebutnya dengan banyak nama, orang inggris menyebutnya ‘sun’, orang bali ‘matan ai’, orang indonesia ‘matahari’, dan saya yakin orang-orang di daerah dan negara yang lain punya sebutan yang berbeda. Lalu kemudian kenapa qt harus saling menjelekkan kalau tujuan kita sama yaitu “menyebut matahari” atau dalam hal ini menyebut nama Tuhan.

Melalui sloka ini saya mengajak kita semua, untuk bisa saling menghargai dan menghormati. Tak ada salahnya kita mengalah untuk kebaikan. Yang terpenting adalah saat ini kita tahu bahwa kita berada pada dimensi yang sama dengan tujuan yang sama, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

 

Penulis

Kadek Adi Wibawa

Dalam perantauan menemukan banyak pertanyaan dan jawaban tentang lika-liku kehidupan sehingga selalu mencoba untuk mencari makna yang bisa di ambil di dalamnya.

Sekian. Semoga bermanfaat.

 


 

Iklan

3 tanggapan untuk “Ekam Sat Viprah Bahudha Vadanti

  1. Salam hormat
    Saya kira yg mjd permasalahan bukanlah nama Tuhan masing2 agama
    Melainkan ajaran masing2 yg berbeda
    Contohlah agama timur tengah, walaupun nama Tuhan sama, namun tetap terjadi perdebatan, jgnkan antar agama, internalnya pun terjadi perbedaan persepsi dan tafsir
    Saya tertarik dengan mencotohkan matahari yg berbeda tiap daerah / negara
    Bukankah tiap daerah / negara berbeda budaya ?
    Orang inggris tidak akan komplain kita sebut sun mjd matahari, namun saya kira mereka akan komplain kalau kita minta mereka kerja rutin di kantor pakai pakaian adat bali
    Bukankah tiap agama berbeda ajarannya ?
    Tetapi saya setuju bahwa hindu agama yg universal dan demokratis
    Orang bali tidak keberatan tuh kerja pake pakaian eropa …. ya ngga
    Mohon maaf kalau ada yg menyinggung, mohon koreksi dan masukannya

    1. Klo meelihat dr sudut pandang budaya tentu akn mnjdi sesuatu yg berbeda. Jgnkan d timur tengah,, d bali saja cara berupakara sja berbeda tergantung budaya yg berkembang d setiap daerah. Klo konteksny indonesia, ada kaharingan, jawa, bali, itu semua berbeda apalagi jk d kaitkan dn budaya d agama lain.
      .
      Tulisan ini merupakan penafsiran sebuah sloka. Yg dilihat dr konteks isi sloka tersebut. Ada perbedaan tentu ad jg persamaanny. Klo qt mau mencari perbedaan, pasti ada dan banyak. Klo mau cari persamaan jg ada.
      .
      Kebetulan dalam perantauan sy mnemukan bnyk sahabat dr muslim, kristen dan budha yg sya rasa sya memiliki kesamaan. Dan ketika kesamaan mnjdi dasar, pertemanan dan persahabat yg qt jalin mnjdi akrab, tdk ada keinginan ntk menjukkkan “lebih”.
      .
      Dan klo qt pahami dg seksama sloka ini lahir bukan ntk salah satu agama (hindu) tp ntk dharma.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s