images (5)

Pendekatan Problem posing masih kurang mendapat perhatian di kalangan pendidik (guru) sebagai salah satu langkah pembelajaran yang sangat bagus dan relevan dengan tujuan utama kurikulum KTSP 2006 mengenai standar isi yang berkaitan dengan bidang matematika. Hal ini ditunjukkan dengan masih dominannya metode ekspositori yang diterapkan oleh guru dalam membelajarkan matematika di kelas maupun di luar kelas. Kurangnya pemahaman dan informasi yang diterima oleh guru mengenai pendekatan Problem posing kemungkinan menjadi penyebab dari tidak terlaksananya pendekatan ini secara baik dan maksimal. Dan walaupun penulis percaya ada beberapa guru (pendidik) yang sudah melaksanakanya, akan tetapi pelaksanaan itu atas kesengajaan sesuai dengan teori atau tidak.

Problem posing diistilahkan dengan pembuatan soal, telah menjadi salah satu tema utama dalam pembelajaran matematika. Reformasi pembelajaran matematika terkini merekomendasikan penerapan problem posing dalam pembelajaran matematika (Christou et al, 1999). Sesungguhnya, problem posing bukan ide baru dalam pembelajaran matematika, melainkan telah diperkenalkan dan diteliti di berbagai negara, seperti Amerika, Inggris, Australia, Jepang, dan Singapura pada beberapa dekade yang lalu.

Pengertian problem posing tidak terbatas pada pembentukan soal yang betul-betul baru, tetapi dapat berarti mereformulasi soal-soal yang diberikan. Terdapat beberapa cara pembentukan soal baru dari soal yang diberikan, misalnya dengan mengubah atau menambah data atau informasi pada soal itu, misalnya mengubah bilangan, operasi, objek, syarat, atau konteksnya. Hal itu sesuai dengan pengertian problem posing yang dikemukakan Silver (Lin, 2004). Ia mendefinisikan problem posing sebagai pembuatan soal baru oleh siswa berdasarkan soal yang telah diselesaikan.

MAKALAH LENGKAP disini

Kadek Adi Wibawa

Pascasarjana Universitas Negeri Malang Program Pendidikan Matematika