Saya suka dengan Tari Genjek sudah lama, sejak saya SD. Di banjar-banjar kalau ada acara nikah, tiga bulanan dan yang lain biasanya ada yang mupah genjek (nyewa genjek). Saya selalu merasa terkesima dengan grup vokal yang memainkan nada melalui mulut dengan sangat bagus dan memliki intonasi yang enak didengar, apalagi ada suara melengking khasnya, membuat saya terlupa pada diri sendiri (senyam-senyum sendiri #gila). Di tambah lagi instrument pengiringnya yang sangat menghentak dan menghanyutkan, membuat Joged yang menjadi tokoh utama dalam tari genjek ini, menari dengan gemulainya dan mengajak penonton untuk berinteraksi atau ikut menari.

Lambat hari Tari Genjek dan Joged menjadi kurang menarik lagi karena munculnya “Joged Buang” yang jorok dan sangat tidak mendidik. Banyak ibu-ibu yang marah dan complain, hingga akhirnya Tari Genjek dan Joged ini meredup seiring berjalannya waktu. Di tambah lagi kesan Tari Genjek yang sendari awal tercipta merupakan tarian penghibur dikalangan muda-mudi yang sedang minum tuak atau arak. Hal ini membuat Tari Genjek menjadi semakin di pandang negatif oleh sebagain kalangan. Walaupun demikian tidak membuat saya untuk tidak menyukai genjek, justru saya semakin jatuh cinta karena masih ada sekeha yang mampu membawa tarian ini ke arah yang sesuai jalurnya. Sekaha genjek yang saya tahu adalah sekeha genjek asal Karang Asem “Kadong Iseng” yang terkenal lewat lagunya “Pipi Sujenan” dan Gus Babah asal Singaraja yang lagunya juga tidak kalah terkenal “Adi Ayu”

Saya bersama sahabat saya I Putu Mega Kartika biasanya kalau pulang dari Lombok menuju Bali atau sebaliknya, di tengah jalan (di atas sepeda motor) biasanya megenjekan bersama (walaupun cuman berdua) hehee… karena kita memiliki hobi dan kegilaan yang sama jadi nyambung ajj.. hehee…

Tepat ketika saya dipercaya sebagai Ketua KMHD Unram tahun 2010, saya, Mega, Raharja, Atuq, dan teman-teman yang lain membentuk sekeha genjek yang bernama SEKEHA GENJEK PUNK LEGE. Sekeha genjek yang beranggotakan kurang lebih 15 orang itu dengan instrument pengiring yang sangat sederhana (petuk/tawe-tawe, rincik, dan kendang) berjalan dengan sangat baik. Berbagai event sudah diikuti, mulai dari Dharma Santi di kampus yang dihadiri kurang lebih 500 penonton, Piodalan di depan krama pura, acara tahun baru di hotel mewah, hingga acara nikahan.

Pengalaman yang sungguh luar biasa karena sebagai mahasiswa, kami (sekeha genjek) mampu membuat komitmen bersama untuk tidak minum-minuman keras selama latihan (karena menurut asumsi kami, bukan kita yang akan mempengaruhi pikiran kita pada saat latihan, tapi minuman keras yang kita tegak), saya ingat sekali, kalau kebetulan panitianya baik dan ada uang, kami disediakan jas-jus sebagai pengganti tuak atau arak, heheee.. kalau tidak ada uang kanggoin cuman air bening (hahaha..). Pada saat pentas kami juga membuat komitmen bersama yang sedikit lebih longgar, “boleh minum tuak atau arak tapi hanya sebatas penghangat badan, mungkin 1-3 sloki”. Kami menjalankan komitmen ini dengan sangat baik, banyak event yang kami ikuti. Nasi bungkus adalah upah (bayaran) kami yang paling berharga, selain senyum dan tawa penonton ketika menikmati pementasan tarian yang kami lakukan.

Ada satu kisah yang sangat gokil yang pernah kami lakukan ketika mengajak anggota baru untuk bergabung megenjekan (pada saat setelah penerimaan mahasiswa baru). Kita (para senior) sengaja membedakan tempat air ke dalam botol aqua kecil yang seolah-olah itu adalah arak. Kita bawa sloki, kemudian menuangkan “air” layaknya sedang metuakan. Nah, saya tes anggota baru ini, saya berikan dia satu sloki, diapun menolak, saya bilang ”sedikit ajj, biar badannya panas, jadi megenjekannya enak” dia tetap menolak, kami memaksa hingga dia menjadi sangat tertekan akhirnya dia bilang gini “saya sudah bersumpah pada diri saya sendiri untuk tidak minum minuman keras” (boiii.. dengan semangatnya dia mengucapkan sampahnya.. ehhh sumpahnya.. sudah kayak Bisma, hehee) kamipun tertawa tersedu-sedu,,. Mendengar ucapan bocah ini… (hahahaaa…) mungkin karena polos dan lugu dia tidak menyadari bahwa gelas sloki yang kami sungguhkan hanya air biasa.

Sebenarnya minum-minuman keras atau tidak, itu tidak terlalu penting, yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga dan menjalankan komitmen yang sudah kita buat dan sepakati bersama. Lagipula dalam ajaran agama Hindu juga tidak melarang secara eksplesit untuk tidak minum-minum keras, yang disarankan untuk dihindari adalah “mabuk” karena itu merupakan musuh manusia yang ada di dalam diri. Dan sudah terbukti bahwa minuman keras merupakan salah satu sumber yang menyebabkan manusia menjadi mabuk.

Saya sangat bangga bergabung di sekeha GENJEK PUNK LEGE ini, selain mencoba untuk membawa misi perubahan ke arah yang lebih baik, saya juga bisa berperan aktif untuk ikut melestarikan budaya nusantara, budaya para leluhur. Dulu saya sebagai penonton dan saat ini tanpa saya rencanakan saya menjadi bagian dari genjek. Inilah pengalaman saya di tanah Lombok, menjadi bagian dari sejarah pembentukan tari genjek.

Yaa.. mungkin segini ajj dulu, kalau temen-temen mau menyaksikan sekeha genjek punk lege beraksi bisa menyaksikan di link ini …..

DSC_0579IMG_0396DSC_0555

 

K.A.W