Beberapa hari yang lalu saya sempat berdebat dengan teman saya di facebook. Gara-garanya dia membuat status tentang hasil PISA tahun 2012, dimana Indonesia berada pada peringkat 63 dari 65 negara yang ikut. Berita yang diunggahpun merupakan pendapat dari pengamat luar negeri yang mengatakan bahwa “siswa Indonesia tidak menyadari bahwa betapa bodohnya mereka”. Tentu saja saya geram karena saya yakin siswa Indonesia tidaklah seperti itu. Kemampuan siswa-siswa Indonesia tidak bisa diukur dengan hanya hasil PISA. Banyak faktor-faktor lain yang juga bisa menjadi dasar untuk menentukan sebanarnya siswa Indonesia sangat cerdas, contoh misalnya hasil Olimpiade Matematika yang sangat membanggakan di kempetisi Internasional.

Biar ga penasaran ini petikan debat saya dengan HR dan VG yang kemudian membuat saya tertarik untuk mendalami PISA.

IMG_20140528_083638

AW: PISA, soal2ny kontekstual dan lebih banyak bersumber dari kehidupan sehari-hari orang luar negeri,, shg mnjdi wajar jika Indonesia slalu mnjdi yg terbawah,, *di samping sistem pendidikan yang terus mengalami pembenahan… klo memang Indonesia senegatif itu,, kenapa masih banyak siswa Indonesia yg menjuarai olimpiade sains, seperti matematika dan fisika… perlu pemahaman memang untuk melihat hasil ini..

HR: Untuk beberapa org, iya. Banyak bukti plajar indonesia bsa berpretasi di dunia. Cma konteksnya, ini tentang sistem. Bgaimana sistem pendidikan di indonesia bsa menjamin semua anak2 indonesia bsa beprestasi, tidak hanya bebrapa saja. Msalah pisa ini, cma slah satu sudut pandg aja, gmana crmin sistem pnddikan kita.

AW: saya tanya sama heri yg berprosesi dokter,. bagaimana sistem kesehatan di indonesia bisa menjamin semua pasien bisa sembuh dari penyakit yang di derita? apakah bisa? ini bicara sistem loo…

HR: Ada. Skrg bpjs namanya. Tp memang blom smprna. Perlu waktu dan proses. Klo di analogikan dngan bidang lainnya. Hampir smua bdang sama mslahnya, yaitu sistem.
Catatan. Sbnrnya bukan sembuh, tapi sehat. Jaminan sembuh itu bkan dokter. Dokter itu mengupayakan kesembuhan bersama pasien. Sehat itu adalah hak semua warga ngara yg dijamin oleh sistem kesehatan nasional, baik segi preventif dan kuratif.
Pendidikan, dan kesehatan saling berkaitan tergabung dalam IPM bersama ekonomi. Yg mnjdi prhtian sy, tidak smua siswa yg sdh tmat sma bsa masuk prgrn tnggi. Sdngkn, apkh siswa yg hnya lulus sma bsa bersaing nantinya di dunia kerja? Apalgi kdepan dengan adanya open asean.

HR: Dan lg, ini bicara sistem. Yg menurut sy sbgai org awam di bdg pndidikan. Dngn kondisi, yg slah satunya digambarkan oleh pisa, Bahwa memang perlu perubahan dan perbaikan terus menerus.
Pun begitu di bdang kesehatan, sistemnya yg trus diperbaiki, biar smua org pnya akses kesehatan yg layak.

AW: ohh bagus dah klo ada jaminan, berarti dokter tidak akan berdemo lagi jika ada pasien atau keluarga pasien yang komplain..

HR: Konteksnya kan kmren beda di. Dan trbukti dri PK MA akhrnya dr. Ayu dkk bebas. Klo memg salah ngpain qt cpe2 trun ke jalan, aksi damai. Yaa klo prinsip hindu satyam eva jayate lah.

VG: Yang juara sains kan cuma 1%, kurang malah, itupun bukan matik wkwkwk. Sejak kecil udah dicekoki klo matik itu sulit. Aku rindu guru2 dahulu, mengembangkan logika ketimbang rumus cepat untuk mencari angka yang benar dalam soal2 pilihan ganda, miss u Oemar Bakri

AW: yaa syakurlah sdh dibebaskan.. Virginiawan: punya data ga, bilang 1%? jika punya, itu 1% dr apa yaa? sya pengen tahu,, biar ga terkesan “ASBUN” ajj… Ini konteknya sistem brarti yg dibicarakan kurikulum, klo yg di permasalahkan konten dalam sistemnya, yaitu: guru, itu beda lagi dan sya juga sepakat klo yang bermasalah sbnrnya bkn sistem tp pelaksana sistem yg ada,.

VG: Lah itu di artikel 1% tulisannya broh..itupun ud ditulungin ngitung sm WNAnya pula. Brarti sistemnya msti diperbaiki krn belum sejalan sm pelaksananya dong?hehe

HR: Sy kira kurikulum dan tenaga pendidik itu masuk bersama dalam sistem. Bgaimana tnga pendidik yg baik dan berkualitas dihasilkan untuk mlksanakan kurikulum.

AW: “Kurang dari 1 persen siswa Indonesia yang memiliki kemampuan bagus di bidang matematika.” mksdny yg ini toh? waduh saya kira Virgin punya informasi selain ini. coba di komper ajj “Yang juara sains kan cuma 1%, kurang malah, itupun bukan matik” bisa disimpulkan seperti itu ga?

AW: Heri: saya sepakat untuk itu her,, smg pendidikan di indonesia smkin maju

VG: yaudah salah deh, trus yg matik brp persen maunya?haha eh iya nama sy virgiawan,bukan virgin walau msh virgin haha masalah info lain sory sy ga punya wewenang ngitung,mestinya yg punya sistem yg ngitung.sbg bahan evaluasi nantinya,ato sbg bhn pertimbangan sblm nyoba sistem yg trus berubah2 tiap ganti menteri.sorry bro kl asbun.

AW: yaa wiss,, ga usah dilanjutkan, makin lama makin tambah saling menyalahkan, kita bekerja dan berbuat di bidang kita masing2 saja dlu, mengkritisi boleh asalkan tidak bertindak sbg orang yg “seolah-olah merasa lebih tau”, sampe2 membawa-bawa nama menteri,,, point sdh didapat, sistem tetap harus dibenahi makanya ada perubahan, dan yg menjalankan sistem jg terus berupaya untuk memperbaiki diri.

VG: Iya brohh,mari mengkritisi dgn solusi..sbnrnya sistemnya ideal,tp belum fit buat kondisi di indo. Slama ini kebijakan pndidikan lbh bnyak top down, n kurang bottom up. Pikiran ini curhatan temen2 guru kok,bukan mengada2. Ya guru2 oemar bakri yg bener2 mengabdi untuk negeri.cmiiw.

Cukup panjang bukan?? Hehee

saya akui saya bukan pendebat yang baik, saya lebih suka diskusi daripada debat karena bisa melahirkan solusi untuk perbaikan. (liat ajj akhirnya saya ngalah, heheee) Dan saya juga merasa tersindir oleh selentingan dari Ricky Elson (teknokras mandiri asli Indonesia). Dia bilang gini

“Ini bukan anak anak muda yang nongkrong
galau galauan.. atau
cabe cabean atau terong terongan..
bahkan bukan akademisi yang lagi “tahu tahuan”**

**Tahu tahuan ->saling berargumen hei, gue itu lebih tahu dari pada elo…
(kamus kecil ciheras)

Kayaknya gue banget tuh, sama loe-loe pada HR dan VG hehehee… (kidding)

Oleh karena itulah sekarang saya memilih untuk mempelajari apa yang sudah saya bicarakan.

ada 3 poin yang saya tangkap dari upaya debat ini (tapi malah berakhir saling mengalah)

  1. Sistem (sistem pendidikan)
  2. PISA (alat mengukur kemampuan siswa berskala internasional)
  3. Guru (tenaga pendidik)

Di antara tiga poin di atas, saya lebih tertarik pada PISA karena ini akan terkait langsung dengan sistem dan guru. Di dalam PISA ada matematika sebagai dasar kemampuan yang diukur. Tentu saja ada hal yang berbeda bahkan sangat berbeda dengan soal-soal yang sering kita temui di sekolah-sekolah. Untuk itulah menjadi daya tarik bagi saya untuk mempelajari.

Bagaimana bisa coba setelah mengikuti 5 kali tes PISA, Indonesia selalu menjadi peringkat terbawah dari kurang lebih 65 negara. Jika ada yang salah, pasti iya, dimana? Jawabannya pasti banyak, bisa dari jenis soalnya yang baru bagi siswa Indonesia, sampelnya yang kurang representatif, sistem pendidikan yang kurang menekankan pada konten yang diujikan, hingga pada guru yang jarang memperkenalkan siswa pada soal-soal tentang PISA. Sehingga ini menjadi menarik untuk dipelajari guna menuju masa depan siswa Indonesia yang lebih baik.

Sepintas saya baca soal-soal PISA sangat sesuai dengan semangat matematika yang sesungguhnya yaitu problem solving (memecahkan masalah), bukan hanya menghitung cepat, menerapkan rumus dan menyelesaikan soal yang rumit tapi bagaimana matematika sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bagaimana menafsirkan seuatu kejadian melalui matematika dengan melihat pola dan melakukan perhitungan. Really beautiful I think? And I want to know about PISA deeply.

Saya sudah mengunggah apa yang coba saya pelajari dan pahami tentang PISA. Dan PISA ternyata punya adik di Indonesia namanya TIMSS. Untuk lebih mengenalnya silakan kunjungi link ini.

K.A.W