Iki tak kasi Penjelasan resmi.no dari “Kementerian Pendidikan Nasional” dalam hal ini diwakili oleh Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika

Kalian pasti pernah mendengar istilah ‘buta huruf (illiteracy)’, yang berkebalikan dengan ‘melek huruf (literacy)’. Literasi sering dihubungkan dengan huruf atau aksara. Literasi merupakan serapan dari kata dalam bahasa inggris ‘literacy’, yang artinya kemampuan untuk membaca dan menulis. Pada masa lalu dan juga masa sekarang, kemampuan membaca atau menulis merupakan kompetensi utama yang sangat dibutuhkan dalam melakukan kegiatan sehari-hari. tanpa kemampuan membaca dan menulis, komunikasi antar manusia sulit berkembang ke taraf yang lebih tinggi.

Gagasan umum dari literasi tersebut diserap dalam bidang-bidang yang lain. Salah satu bidang yang menyerapnya adalah bidang matematika, sehingga muncul istilah literasi matematika. Matematika sering diartikan sebagai bahasa simbol atau bilangan. Persepsi umum masyarakat yang terjadi adalah matematika dikaitkan dengan angka atau operasi hitung, misalnya: penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.

Kompetensi dalam matematika seringkali dihubungkan dengan kemampuan untuk memanipulasi bilangan, antara lain kemampuan untuk menghitung secara cepat. Pengertian tersebut bukannya keliru, tetapi kurang lengkap. Memang benar bahwa salah satu wujud dari literasi matematika adalah kompetensi menghitung. Namun, bilangan hanyalah sebagian kecil saja dari matematika. Dalam masa sekarang, kalkulator dan komputer telah banyak digunakan, kecepatan menghitung tidak lagi menjadi tujuan. Secepat apapun seseorang dalam berhitung, ada kalkulator dan komputer yang bisa menggantikan. Dalam kehidupan modern ini kompetensi membaca, menulis, dan menghitung, meskipun masih penting, namun tidaklah cukup.

Definisi literasi matematika menurut draft assessment framework PISA 2012:

Presentation1

Berdasarkan definisi tersebut, Literasi matematika diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk merumuskan, menerapkan dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks, termasuk kemampuan melakukan penalaran secara matematis dan menggunakan konsep, prosedur, dan fakta untuk menggambarkan, menjelaskan atau memperkirakan fenomena/kejadian. Literasi matematika membantu seseorang untuk memahami peran atau kegunaan matematika di dalam kehidupan sehari-hari sekaligus menggunakannya untuk membuat keputusan-keputusan yang tepat sebagai warga negara yang membangun, peduli dan berpikir.

Sudah jelas bukan? Saya yakin “pemerintah” kita sudah menjelaskan dengan sangat baik dan lengkap mengenai LITERASI MATEMATIKA. Hanya saja perlu ditekankan bahwa LITERASI MATEMATIKA bukan merupakan barang baru dalam dunia pendidikan kita tapi barang langka yang bisa ditemukan. Jadi yang namanya barang langka pasti mahal harganya, dan sudah pasti sangat berharga.

Singkatnya Literasi Matematika menekankan pada perumusan, penerapan dan penafsiran matematika dalam berbagai konteks (kejadian dalam kehidupan sehari-hari). jadi, makna “membaca” yang di serap dalam matematia adalah “merumuskan” bagaimana mengubah suatu kejadian dalam kehidupan sehari-hari ke dalam model matematika. Model matematika inilah yang kemudian di manipulasi secara matematis (serapan kata “menulis” pada matematika) dan digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi sebagai bagian dari penerapan dan penafsiran.

2 alat asesmen internasional yang menggunakan LITERASI MATEMATIKA sebagai basis dalam mengukur kemampuan matematika siswa adalah TIMSS dan PISA. Untuk itu, perlu kita kenali dan pahami dulu apa itu TIMSS dan apa itu PISA? (kunjungi link ini)

 K.A.W