page

Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan melakukan PTK untuk kedua kalinya. Artinya saya memiliki waktu untuk belajar lebih banyak lagi tentang PTK. Saya memilih untuk ber-PTK lagi karena saya merasa tertantang untuk melakukkannya setelah membaca beberapa jurnal internasional mengenai Penelitian Tindakan, dimana lebih banyak mendeskripsikan apa yang dilakukan guru di kelas (dengan detail) yang dapat membantu siswa untuk meningkatkan baik hasil belajar maupun proses berpikirnya. Sebelumnya (pada PTK ketika S1) saya merasakan lebih banyak menuliskan proses analisis data daripada proses nyata yang terjadi di lapangan. Sehingga tidak tergambarkan secara menyeluruh apa yang dilakukan guru (peneliti) di kelas.

Kesempatan yang berharga ini saya dapatkan atas saran dari Bapak Subanji yang meminta seluruh mahasiswa S2 semester 1 untuk membuat artikel. Sepertinya dari kurang lebih 80 mahasiswa hanya saya yang memilih untuk membuat artikel penelitian, selebihnya artikel kajian. Tentu banyak persiapan baik tenaga, waktu dan dana yang saya keluarkan, tapi ini sangat sesuai dengan apa yang saya dapatkan baik ilmu maupun pengalaman (the second change). Pengalaman ber-PTK menurut saya pengalaman yang mangasyikan, karena kita (peneliti) yang meramu, melakukan tindakan, mengevaluasi, merefleksi, dan menuliskan semua dalam bentuk laporan. Idealisme, Egoisme yang saya miliki tertuang disini, tentu semua harus ada dasar dan sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.

Fakta menarik ketika mempersiapkan, melakukan, menuliskan, dan mempublish PTK saya di Seminar nasional.

1. ketika melakukan observasi di kelas yang akan saya jadikan objek penelitian, ternyata disana ada 2 orang siswa yang autis (mengalami keterbelakangan mental) artinya akan ada tantangan tersendiri untuk mengajar di kelas yang tidak hanya heterogen secara prestasi belajar tetapi heterogen juga secara mental.

2. ketika perkenalan, saya dikira dari Malaysia. (ini gak masuk itungan dalam ber-PTK)

3. siswa selau tertawa “cekikikan) ketika saya menyebut kata “satu” tujuh” dan lain-lain yang ada huruf t nya (gak tau kenapa, mungkin karena saya dari Bali)

4. siswa sangat kreatif, karena mampu membuat bentuk aljabar yang beraneka ragam dari media pembelajaran yang saya gunakan.

5. ketika evaluasi, salah satu anak autis itu mendekati saya dan berbisik “pak, nanti kalau saya salah, jangan di marah ya” saya sangat tersentuh mendengar kalimat itu.

6. menulis laporan dengan dominasi kalimat (deskripsi) tidak seperti PTK yang pertama yang lebih di dominasi analisis hasil evaluasi.

7. ini artikel pertama yang saya buat.

8. artikel pertama kali yang terpublikasi di seminar nasional

9. berkat artikel ini saya memiliki pengalaman UNTUK PERTAMA KALINYA menjadi pembicara di seminar nasional (yang menyebabkan saya ketagihan dan ingin terus memperbanyak publikasi agar bisa jadi pembicara di seminar nasional)

10. pengalaman yang paling berkesan, dan tidak akan terlupakan dalam hidup saya. ketika ada salah satu peserta seminar bertanya “mengapa penelitiannya tidak berhasil? apa penyebabnya? mengapa tidak dilakukan siklus lanjutan?” waktu itu saya menjawab, kalau penelitian yang saya lakukan memang tidak berhasil karena tidak mampu memenuhi target yang saya buat yaitu ketuntasan klasikal 75% dengan KKM 75. Akan tetapi saya menemukan bahwa beberapa siswa begitu kreatif dalam membuat model matematika dan memecahkan masalah matematika. Saya tidak melanjutkan karena siswa akan melaksanakan ujian tengah semester. Dan hal paling saya ingat bahwa ketika saya menyampaikan pada peserta bahwa beberapa hal yang menyebabkan penelitian ini tidak berhasil adalah siswa kesulitan  dalam memahami makna variabel, kesulitan dalam menyelesaikan persamaan yang diberikan, dan kesulitan dalam membuat model matematika melalui soal cerita yang diberikan. Tiba-tiba Pak Abdur Rahman As’ari (Pak As’ari) nyeletuk “KALAU SEPERTI ITU ALASANMU, KAMU BELUM SIAP BER-PTK” “WADUH …” begitu pikir saya dalam hati, saya tidak bisa dan tidak berani menanggapi karena pasti ada sesuatu yang salah saya ucapkan. Kemudia Pak Prof. Akbar membantu saya menanggapi dengan melihat dari sudut pandang kriteria keberhasilan yang saya buat sebagai dasar bahwa penelitian ini tidak berhasil. Kejadian ini terus terngiang dalam telinga, benak dan pikiran saya. “apa yang salah yaa?”

11. Saya ceritakan kejadian ini ke teman-teman, saya terus menanyakan “apa yang salah?” saya memberanikan diri untuk mengajakan teman untuk berdiskusi. Dan Akhirnya menurut saya, yang salah dari saya adalah alasan yang saya buat ketika tidak berhasil, yaitu “menyalahkan siswa” siswa tidak pantas untuk disalahkan karena mereka adalah objek penelitian, yang pantas untuk disalahkan adalah guru, yang melakukan tahap refleksi adalah guru. Guru yang menjadi instrumen utama, dan guru pulalah yang bisa menentukan semua. Begitulah kira-kira pengalaman saya, yang sangat berkesan dan sangat berarti.

12. melalui artikel pertama yang saya buat dan saya publikasikan, saya menjadi tertantang untuk membuat artikel-artikel berikutnya, dan kini sudah ada 2 artikel lagi yang saya buat dan publikasikan dalam seminar nasional.

artikel lengkap saya, bisa di download di link ini.

prosiding lengkap 

terima kasih

semoga bermanfaat

Kadek Adi Wibawa, M.Pd.