aa

http://www.kaskus.co.id/thread/536cc47e6e07e78a018b4861/persiapin-hal-ini-kalo-ga-mau-kena-omel-quotguru-killerquot

Saya mengategorikan quote di atas sebagai “The Golden Words of Mathematics” karena sebagian pengalaman dari kita pasti menemukan situasi yang sama ketika berhadapan dengan seorang guru matematika. Saya coba mengeneralisir seperti kata-kata di atas

“Pendidik matematika sangat identik dengan galak, suka marah, killer, kaku, dan membosankan. TIdak salah memang, hanya perlu disadari mereka mengajarkan agar kita selalu berhati-hati”

Pengalaman saya ketika SMP memiliki guru matematika, namanya Pak Danu. Beliau berperawakan tinggi putih dan cool dengan rambut klimis bernuansa pomade jaman dulu (yang ada gambar gunungnya, hehee). Walaupun sudah cukup tua (sekitar 55 tahun) beliau melangkah dengan sangat tegap dan gagah. Saya teringat sekali suara vespanya yang cetar membahana, dari jarak 50 km sudah terdengar nyaring, seakan merobek telinga… (mungkin perasaan saya saja, hehe). Hati dag dig dug, semua gorden di tutup, suasana kelas sepi seperti di kuburan, sepertinya seokor lalat pun enggan untuk masuk. Semua siswa (termasuk saya) duduk dengan poisis tangan menyilang di atas meja. Begitu mencekam… Suara motor vespanya mulai terdangar tambah nyaring, pertanda ajal akan tiba,, gk gk… pertanda beliau sudah mulai memarkir sepeda motornya. Sampai-sampai kami hapal (walaupun tidak melihat) cara beliau menstandar motornya (mendongkrak motornya) “jelegedeggg…” jantung kami merasakannya “enjelep” nafas mulai kami atur lagi. “tok tak.. tok tak.. tok tak” suara sepatu pantopelnya terdengar jelas, menaiki tangga, hingga tepat berada di pinggir kelas berjalan menyusuri jendela yang tertutup rapi. Beliau masuk dengan membawa aura yang galak, kaku, dan membosankan. Begitulah suasana kelas ketika guru matematika saya ketika SMP yang bernama Pak Danu mengajar saya. Beliau sangat tegas sampai-sampai kami tidak bisa membedakannya antara tegas, galak dan kaku. Saya pernah di bentak oleh beliau ketika saya mencoba untuk mencocokkan cara dan jawaban yang sudah saya temukan pada teman saya di belakang. Beliau begitu marah padahal itu hanya latihan soal, bukan ulangan/ujian. saya diminta untuk berani dan percaya diri dengan jawaban sendiri. Kemudian beliau meminta saya untuk maju ke depan kelas untuk mengerjakannya. Memang kondisi seperti ini sangatlah “menyiksa” tapi begitu berkesan dalam hidup saya. Beliau begitu konsisten dengan sikapnya, tidak mencla mencle, maksudnya, yaa beliau memang begitu pembawaannya. Entah matematika sudah mempengaruhi gayanya, saya tidak tau, karena tidak semua guru matematika seperti beliau. Jika saya coba lihat dari kacamata filosofi, nilai karakterlah yang coba dibidik oleh beliau. Karena matematika sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai tersebut. Bagaimana kita harus berhati-hati dalam mengerjakan sesuatu, harus logis, bertanggung jawab dan yang paling penting berani dan percaya diri. Apa kaitannya antara mengajar galak, suka marah, killer, kaku, dan membosankan dengan kehati-hatian. Coba kita lihat hal yang paling sederhana yaitu berlalu lintas. Begitu membosankan bukan, harus memberhentikan sepeda motor/mobil di traffic light, begitu kaku kan peraturan harus berada di belakang garis zebra cross, dan begitu galak, dan killernya kan polisi jika melanggarnya. Itu adalah hal yang sederhana. Yang artinya segala apa yang terjadi itu pasti ada manfaatnya dan ada konsekuensinya kita salami lebih mendalam. Kita selalu takut menanyakan kepada guru yang seperti itu, “kenapa Bapak/Ibu mengajar seperti ini?” Dulu saya takut, tapi ketika kuliah saya lagi bertemu guru yang setipe, kita senyebutnya dosen. Saya berani mendekati beliau, mencoba mencari tahu mengapa beliau begitu tampak begitu kaku, tampak begitu membosankan. Karena A haruslah A, jangan disebut B itu ranahnya sudah berbeda. Begitulah kisah saya. Dan saya yakin teman-teman semua, bapak/ibu yang mungkin sekarang menajdi guru/dosen, atau juga orang tua pernah merasakannya dan memiliki kisahnya sendiri. Demikian semoga tulisan ini bermanfaat.

Salam terhangat

Kadek Adi Wibawa, M.Pd.

edisi ke-6