hari-guru-di-eropa-THTUSCwT7l

Sumber: http://news.okezone.com/read/2014/11/25/65/1070614/hari-guru-di-eropa

Pamela Dunham dari New Fairfield Connecticut, mempunyai suatu tanggung jawab diantara tanggung jawabnya yang lain yaitu yaitu melakukan supervisi terhadap seorang pembersih kantor yang mengerjakan tugasnya dengan sangat buruk. Para pegawai lainnya akan mencemoohnya dan membuang sampah di lorong untuk menunjukkan kepadanya betapa buruknya hasil pekerjaannya. Sungguh buruk, waktu produktif menjadi hilang di toko itu.

Tanpa hasil, Pam berusaha dengan berbagai cara untuk memotivasi orang ini. Dia memperhatikan bahwa sekali-sekali orang itu melakukan pekerjaan dengan baik sekali. Pam memutuskan untuk memujinya atas pekerjaan ini di depan orang lain. Setiap hari pekerjaan yang dia lakukan semuanya menjadi lebih baik, dan dalam waktu cukup singkat dia mulai mengerjakan semua tugasnya secara efisien. Sekarang dia mengerjakan tugasnya dengan sangat baik dan orang lain memberinya penghargaan dan pengakuan. Penghargaan yang jujur membawa hasil sementara kritik dan cemooh gagal mendapatkannya.

Menyakiti orang lain bukan hanya tidak akan mengubah orang itu, hal itu tidak pernah diperlukan.

Kutipan singkat ini, mengingatkan saya pada pengalaman ketika SMA dulu. Saya memiliki teman namanya Mang De, di kelas sering dipanggil Godel. Mungkin sebagian teman sekelas saya tidak mengingat kisah ini sebagai kisah yang berharga. Tapi saya menyimpannya dengan sangat rapi, dan selalu menjadi cerminan dalam hidup saya.

Mang De adalah teman sekelas saya di Kelas XI IPA. Lebih banyak orang yang membenci daripada menyukainya. Kenapa? karena Dia lebih sering bergaul dengan teman-teman di IPS. Dan jujur saya ceritakan, di kelas prestasinya sangat buruk, minat belajarnya sangat rendah. Hampir setiap pelajaran berlangsung dia mengantuk dan bahkan tertidur. Bisa dibayangkan selama 1 tahun menjalani hari-hari bersamanya. Hanya sedikit teman sekelas yang mau mendekatinya, mengajaknya berteman. Dan jujur, salah satunya saya. Saya tidak suka dengan dia. Karena saya menyakini akan mempengaruhi cara belajar saya kalau bergaul dengan dia.

Satu tahun berjalan, hingga akhirnya kita berada di kelas XII IPA dengan teman-teman yang sama. Seiring berjalannya waktu, saya dan teman-teman mulai mencari tahu mengapa Mang De seperti itu. Dan akhirnya, dari beberapa informasi yang diperoleh bahwa, Mang De sebenarnya berkeinginan masuk di kelas IPS tapi orang tuanya yang “menuntut” “memaksa” halusnya mengarahkan Mang De untuk masuk di kelas IPA. Entah apa yang ada dipikiran orang tuanya pada saat itu, saya tidak begitu ingat. Yang pasti, Mang De sedang terjebak di tengah-tengah hutan belantara, yang tak pernah dia tahu hendak kemana, dan apa yang sedang terjadi.

Suatu ketika, dimana kita semua sedang fokus mempersiapkan diri untuk menghadapi UAN (sekarang UN) dan tentu ini akan menjadi “kepenatan” yang memuncak bagi Mang De. Seorang guru bernama Pak Zainal Abidin, memberikan satu pelajaran yang sangat berharga dan menginspirasi saya. Dia menugaskan kita (semua siswa) untuk membuat slide power point yang kretif, ada hiperlinknya, dan segala macem, tentang soal yang kemudian ada pilihan gandanya. Apabila seseorang menjawab salah, maka akan muncul tulisan “ehh.. lu salahh… coba lagi” dan kata/kalimat sejenis yang lain, dan kalau benar akan muncul sesuatu yang menggembirakan.

Yang menarik adalah, Pak Zainal tahu betul, kalau di kelas kami, hanya Mang Delah yang bisa membuat slide seperti itu. Kenapa saya yakin? karena setiap mengajar, atau Pak Zainal datang ke kelas kami pasti sempat membicarakan tentang komputer. Pak Zainal tahu betul kalau keahlian Mang De adalah di bidang IT bukan Matematika atau IPA.

Bisa dibayangkan apa yang terjadi? semua teman-teman yang cowok, datang ke rumah Mang De dan belajar membuat slide itu, dan bahkan ada yang minta di buatin. 180 derajat perlakuan kita kepada Mang De. Dan hebatnnya tanpa rasa dendam, Mang De mau membagi ilmunya mengajari kita, dan membuatkan kita yang jauh lebih malas.

Setelah kejadian ini, hari-hari menjadi lebih bersahabat. Kita sempat menginap di rumahnya Mang De, untuk persiapan besoknya Banyu Pinaruh. Merencanakan agenda jalan-jalan ke Bedugul, Danau Tamblingan, hingga berkunjung ke rumah saya di Busungbiu.

Mang De menjadi lebih percaya diri. Dan saya pun menjadikan ini sebagai kisah yang sangat inspiratif. Seorang guru Kimia telah menyadarkan saya bahwa penghargaan ini begitu penting. Lebih baik memberikan penghargaan pada satu kebaikan yang telah dilakukan daripada mengkritik/menghakimi/menghujat seseorang karena seribu kesalahannya.

 

Saat ini saya sedang berpikir. Saya memiliki puluhan dan bahkan ratusan murid (les, ketika PPL, ketika Penelitian untuk skripsi) apakah saya sudah sempat memberikan penghargaan kepada murid saya, sehingga itu bisa memotivasi, dan bahkan menginspirasi mereka, sehingga menjadi sesuatu yang sangat berharga pada kehidupan mereka. Hanya mereka yang tahu. Dan Sampai tulisan ini dibuat saya belum bisa sehebat Pamela Dunham yang diceritakan oleh Dale Carnegie dalam bukunya “Bagaimana mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain” dan Pak Zainal yang mampu melihat satu kebaikan seseorang sehingga menjadikan itu sebagai pembelajaran seumur hidup bagi orang lain.

semoga tulisan ini bermanfaat.

salam terhangat

Kadek Adi Wibawa