Tag

, , , , ,

Saya selalu mencoba untuk peka jikalau ada status di fb (terutama dari teman-teman saya) terkait dengan pendidikan dan matematika. Salah satunya status yang dibuat sahabat saya, Bli Sutha.

Jpeg

Jpeg

“Pendidikan Indonesia terlalu cognitive minded alias berorientasi kepada aspek kognitif, sementara aspek afektif dan psikomotornya kurang diperhatikan. Dampaknya, banyak orang yang pintar, tapi korupsi, suka melakukan plagiarisme, suka berkata-kata kotor, berperilaku tidak sopan, egois, emosional, tempramental, suka buang sampah sembarangan, suka melanggar lalu lintas, dan berbagai perilaku buruk lainnya.
(Copy dari kompasiana)
Memang itulah yg terjadi di keseharian kita. Hal konyol selalu ditampilkan dlm berprilaku, padahal sdh berpendidikan tinggi. Kira2 ilmu dan agama yg didapat diamalkan atau tidak ya??”

Membaca status ini saya langsung terfokus pada kata “kognitif” dan kalimat “Pendidikan Indonesia terlalu cognitive minded alias berorientasi kepada aspek kognitif”

Saya mengabaikan niatan dari dibuatnya status ini, karena semua orang pasti geram dengan perilaku-perilaku aneh yang terjadi di negeri ini, dan mencoba untuk membuat satu tulisan yang mampu menggambarkan “kegeraman” itu.

Kemudian saya ikut comment:

“Apa makna sebenarnya dr kognitif? Perlu jg kita tahu… agar jelas apa yg mau dikritisi. Mkna sebenarny kognitif adalah suatu proses aktif dan kreatif yang terjadi d dalam otak. Jdi yg menjadi penekanan adalah aspek berpikir.. bukan nilai… yg kecenderungan mengeneralisasi dr istilah umum yg sebenarny keliru.”

Saya pikir Bli Sutha (yang punya status) akan marah dan balik mengkritik saya, ehh ternyata dia jawab gini:

“Siap doktor Adi Wibawa..mohon pencerahannya ttg aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik..maklum bukan org bidang pendidikan..hehehe..”

Itu benar-benar melegakan, dan membuat saya sedikit malu. Saya menduga pasti Bli Sutha pernah membaca bukunya Dale Carnegie yang berjudul “ Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang lain”. Soalnya dia menanggapi comment saya dengan begitu baik (menurut saya).

Sayapun jadi tertantang untuk mencari tahu apa sebenarnya yang dimaksud dengan Kognitif, Psikomotorik, dan Afektif. Apa yang disasar dari ketiga istilah itu?

Mungkin kalau saya searching di Mbah Google, pasti akan ketemu. Tapi tidak saya lakukan, mungkin ada faktor M. hehee…

Iseng-iseng saya membaca Disertasinya Bapak Dr. I Nengah Parta, dan menemukan satu kajian yang sekiranya menurut saya mampu memberikan informasi, dan mudah-mudahan pemahaman terkait apa yang ditanyakan.

Dari aspek kognitif, mengajar matematika adalah mengajar berpikir yang runtut dan konsisten, menyusun kerangka berpikir yang logis, mengartikulasikan ide-ide matematik dengan bahasa yang tepat, mencari atau membuat hubungan antar konsep, bekerja dengan prosedur yang sistematis serta menilai pekerjaan itu.

Dari aspek psikomotor, mengajar matematika adalah membangun kecerdasan kognitif, antara lain melakukan eksplorasi, membuat alternative-alternatif, membuat conjecture (dugaan), bekerja secara “tuntas”.

Dari aspek afektif, mengajar matematika adalah mengajar bertanggung jawab, jujur, respek terhadap situasi yang sedang berlangsung dan mau saling berbagi.

Pengertian ini bisa berlaku juga pada mata pelajaran/bidang yang lain, yang disesuaikan dengan karakteristiknya. Intisari yang saya tangkap bahwa, kognitif itu adalah melatih kerja otak, atau melatih berpikir. Dan Berpikir itu bukan hanya berpikir prosedural, seperti penerapn rumus dan menghafal nama-nama benoa. Tapi perlu juga diketahui ada yang namanya berpikir konseptual, berpikir kritis, berpikir kreatif, berpikir analitik, berpikir relektif, baru-baru ini di Universitas Negeri Malang ada yang menemukan istilah berpikir refraktif (gabungan antara berpikir reflektif dan berpikir kritis), dan banyak lagi.

“ada nggak contoh pembelajarannya seperti apa?” yaa nanti akan saya tulis di postingan berikutnya atau kalian bisa mencari dan membuat sendiri, itu sangatlah bagus.

Jelaskan yaa.. apa yang dimaksud kognitif?? (saya harap sudah jelas)

Lalu, apakah salah status yang dibuat oleh Bli Sutha? Yang dimana banyak orang sering kali mengaitkan kognitif dengan nilai. Dan Nilai cendurung dikaitkan dengan pencapaian dari pembelajaran yang soalnya bersifat rutin. Jawabannya “tidak salah” hanya keliru. Yang mana hal keliru masih bisa untuk diperbaiki. Lagian buat status dan bukan seperti menjawab soal UNAS (heheee.. just kidding)

“Pendidikan Indonesia terlalu cognitive minded alias berorientasi kepada aspek kognitif”

Kalau itu dilaksanakan sesuai dengan pengertian kognitif yang sebenarnya, saya akan mengatakan dan meyakini seluruh pakar pendidikan di Indonesia akan sangat setuju. Kenapa? Kita bisa lihat para ilmuan, para filsup, terdahulu, mereka semua adalah orang-orang pemikir, bahkan ada satu kalimat yang begitu terkenal, “saya berpikir berarti saya ada”

Teori yang paling mendukung pernyataan itu adalah, teori kontruktivisme, dan bahkan teori humanistik, yang berpaham “memanusiakan manusia itu sendiri”, juga sejalan dengan pernyataan di atas.

Pelajaran untuk kita semua (termasuk saya) dari postingan ini:

  1. Seringkali kita menggunakan istilah-istilah asing yang tidak kita ketahui arti dan maknanya dengan benar akan tetapi karena sering digunakan banyak orang, jadi kita latah menggunakannya. Mungkin kita bisa berpikir sejenak, apa yaa maksudnya istilah ini? apa benar artinya seperti yang dikatakan Si A? dan lain sebagainya.
  2. Seringkali kita merasa bahwa kita bisa, kita mampu, kita lebih baik, padahal itu bukan bidang kita, atau bahkan kita tidak pernah bergelut dibidang itu, dan kita mengkritisi seakan-akan kita bisa, mampu dan paham. Mungkin kita bisa berpikir sejenak, yaa kita doakan semoga mereka yang berbuat tidak pantas, anggaplah buruk, akan dapat memperbaiki diri, dan ada orang yang mengerti tentang ini bisa membantunya. Bukankah “apa yang kita pikirkan itu yang akan kemungkinan besar terjadi”

 

Yaa begitulah.. mudah-mudahan bisa bermanfaat.

 

Kadek Adi Wibawa, S.Pd., M.Pd.

Sekarang sedang menempuh Program Doktoral di Universitas Negeri Malang

(Doakan biar cepet lulus, ngarep.com, hehe)