Kemampuan seperti apa yang harus dibentuk dan dimiliki oleh seseorang, menjadi satu pertanyaan penting dalam dunia pendidikan. Seseorang yang masuk dalam dunia pendidikan pada dasarnya ingin memiliki suatu kemampuan yang tumbuh dalam dirinya dan kemampuan yang telah dimilikinya diharapkan mendapat penghargaan oleh semua orang. Apa itu kemampuan? Kemampuan seseorang itu adalah saat dia menunjukkan suatu perkembangan dalam kehidupannya, begitu kira-kira yang disampaikan oleh Munif Chatib dalam bukunya yang berjudul “Sekolah Anak-anak Juara”

Dalam dunia psikologi perkembangan, ada tiga komponen perkembangan manusia, yaitu psikoafektif, psikomotorik, dan psikokognitif. Tiga komponen perkembangan inilah yang memunculkan tiga ranah kemampuan manusia, yaitu afektif, psikomotorik, dan kognitif (Ar-Ruzz Media dalam Chatib, 2012).

Munif Chatib menyebut tiga ranah kemampuan ini SELUAS SAMUDRA. Bagaimana penjelasannya?

Manusia memiliki kemampuan psiko-afektif, yaitu suatu respon atau perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.

ilustrasi-_121004184018-542

http://www.khoiruummah.sch.id/2012/10/kisah-indah-abu-hurairah.html

Secara umum, perasaan itu adalah suasana hati yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, suka atau tidak, baik dan buruk. Lebih jauh, afektif juga diartikan perilaku atau akhlak seseorang terhadap lingkungannya. Sederhananya, perilaku yang baik saat orang berinteraksi dengan lingkungannya ataupun dengan dirinya sendiri adalah sebuah kemampuan.

Dalam dunia sekolah, anak yang berprilaku baik, seperti tidak pernah terlambat, sopan dan santun, selalu menghormati orang yang lebih tua, mudah bergaul, walhasil perilakunya akan menyenangkan banyak orang. Sesungguhnya, anak ini dikatakan memiliki kemampuan afektif. Tapi, jujur (pernyataan dari penulis aslinya, Bapak Munif Chatib) dalam dunia pendidikan kita, hal ini hanya menjadi “opini tambahan”, tidak dikatakan sebagai kemampuan. Anak yang baik dengan sesamanya, dengan gurunya, tidak pernah kita sebut anak pintar atau anak pandai.

Manusia memiliki kemampuan psikomotorik, yaitu perkembangan tubuh atau jasmani setiap individu akan aktivitas dirinya terhadap sesuatu atau menghasilkan suatu benda.

s8305521https://osismansagaranten.wordpress.com/2009/07/12/hello-world/s8305521/

Lebih luas, psikomotorik diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menampilkan diri tentang sesuatu atau kemampuan menghasilkan produk, sesederhana apapun bentuknya. Misalnya, anak kita berani tampil untuk memberikan presentasi, membaca puisi, menyanyi dalam paduan suara, menari, atau olahraga yang disukainya. Kemampuan anak kita menggambar, membuat kerajinan tangan, dan membuat produk, sesungguhnya juga kemampuan psikomotorik.

Baru-baru ini media massa dihebohkan dengan Mobil karya anak bangsa bernama Ricky yang tidak layak di Indonesia (tidak ada tindak lanjut atau kejelasan) dan justru negeri tetangga begitu berminat untuk mengembangkannya. Mungkin hal ini berangkat juga dari hasil karya ketika kita menjadi siswa ataupun mahasiswa membuat tugas banyak-banyak tapi hanya diberikan tanda tangan atau bahkan tidak diperiksa sama sekali. Karena tentu ini bukan dianggap sebagai kemampuan atau anak yang sudah mengerjakan tugas tidak dianggap sebagai anak yang pintar.

Manusia memiliki kemampuan psiko-kognitif, yaitu perkembangan yang terjadi dalam bentuk pengenalan, pengertian, dan pemahaman dengan menggunakan pengamatan, pendengaran, dan berpikir.

kids

http://whanday.blogspot.com/2015/08/8-macam-cara-berfikir-siswa.html

Lebih dalam, kognitif adalah kemampuan olah pikir seseorang untuk mengenali, menganalisis sesuatu, dan akhirnya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Semestinya, kemampuan kognitif ini tidak terbatas pada kemampuan anak mengerjakan soal-soal tes di atas kertas, namun lebih cenderung pada penyelesaian soal-soal dalam bentuk masalah yang realistis dengan kemampuan berpikirnya.

Sayangnya, masih banyak guru memberikan soal kognitif tingkat rendah kepada siswanya. Dalam soal-soal kognitif tingkat rendah, tidak terkandung unsur “problem”. Jenis soal-soal semacam ini biasanya terdapat pada jenis soal multiple choices atau pilihan ganda. Contoh secara sederhana adalah soal sebagai berikut:

1. Gunung Berapi di Jawa Timur adalah . . .

a.   Gunung Merapi      b.   Gunung Semeru     c.   Gunung Galunggung

2. 7 – 4 = . . .

a.  4     b.  3    c.  5

Perhatikan! Apakah ada “problem nyata” pada soal-soal tersebut?

Bandingkan dengan soal sederhana berikut ini!

“Pak Andik adalah penjaga di sebuah peternakan ayam yang berisi 42 ekor ayam. Suatu malam, terjadi keributan di kandang ayam itu. Ternyata, seekor tikus menyerang kawanan ayam tersebut. Paginya, Pak Andik menemukan 11 ekor ayamnya tewas digigit tikus. Ketika harus membuat laporan kepada majikannya, Pak Andik harus menghitung sisa ayam yang masih hidup. Ada berapa ekor ayam yang masih hidup di peternakan tersebut?”

Pasti, Anda menemukan perbedaan yang jelas antara kelompok soal pertama dan soal kedua. Soal peternakan ayam mengandung “problem” atau “masalah nyata”. Inilah yang saya (Munif Chatib-red) maksud dengan kemampuan olah pikir kognitif. Untuk melatih kemampuan kognitif siswa, harus ada masalah yang dimunculkan dan kemampuan kognitif akan menjadi problem solving-nya.

Sayang sekali jika kemampuan kognitif harus direduksi menjadi soal-soal di atas kertas yang tidak bermakna, yang jauh dari masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Soal yang tidak berkaitan dengan problem solving sebenarnya tidak sah (valid) digunakan sebagai penentu ketuntasan atau kelulusan seseorang.

 

Beberapa opini dari penulis

  1. Ketiga ranah tersebut dijelaskan dengan “sangat jelas” oleh Munif Chatib dan penjelasan ini tidak untuk diperdebatkan, misalnya “ahh cuman teori doank, ngajar susah tau, apalagi anak SD, apalagi ada soal pemecahan masalahnya, yang soal rutin aja susah” . Ini merupakan teori yang coba di perjelas, jadi sama halnya seperti motivasi yang diberikan oleh Mario Teguh, atau yang paling ekstrim pesan-pesan yang ada dalam Kitab Suci. Itu tidak untuk diperdebatkan tapi untuk di renungi dan dipahami sehingga yang diharapkan adalah “menerima” teori ini atau “tidak”. Jika menerima ayoo pelajari bersama, perbaiki bersama yang kurang-kurang dan pertahankan bersama yang sudah baik/bagus. Apabila tidak diterima yaa tentu ada alasannya, misalkan memiliki sumber yang lebih dapat dipercaya dan sebagainya. Itulah hakekatnya belajar menurut saya, teori lahir dari praktek, dan dari praktek lahirlah suatu teori.
  2. Bagi para pendidik (guru, dosen, pengawas, orang tua) bisa memahami ini sebagai satu jalan untuk menuju insan pebelajar yang “pemberani”. Berani menunjukkan diri bahwa saya pintar, pintar dibidang olah raga, saya pandai, pandai dibidang menari, saya cerdas, cerdas dibidang debat dan pidato. Semua orang sudah di bekali kecerdasan masing-masing. Sehingga untuk menemukan kecerdasan itu diperlukan kesabaran dan kejelian dalam melihatnya, dan juga harus punya pemahaman informasi terkait kecerdasan apa saja yang ada di dalam diri seseorang.
  3. Bagi para pebelajar (siswa, mahasiswa seperti saya) apabila mengetahui informasi ini dan memahami bahwa kemampuan ataukecerdasan dapat dilihat dari tiga ranah ini, yang diperlukan hanya mencari. Untuk bisa memiliki kemampuan psiko-afektif misalnya, mulai tata diri untuk bersikap yang baik. (Jujur penulis masih suka datang terlambat kalau ke kampus, ini salah satunya yang perlu diperbaiki agar bisa dikatakan memilki kemampuan psiko-afektif). Bisa juga mengikuti organisasi untuk merangsang rasa empati, kebersamaan, kepedulian, dan rasa tanggung jawab. Yang dibutuhkan pebelajar adalah self-assesement/penililaian yang dilakukan oleh diri sendiri (apabila sudah mengetahui informasi ini) misalnya kita mengetahui bahwa kemampuan psikomotorik itu sangat penting, salah satunya keaktifan di kelas dalam bertanya maupun berdiskusi, lakukanlah. Usahakan terus motivasi diri untuk melakukan ini.

Demikian tulisan ini. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita semua.

Sumber dari Buku karya Munif Chatib dan Alamsyah Said yang berjudul “Sekolah Anak-anak Juara: Berbasis Kecerdasan Jamak dan Pendidikan Berkeadilan”

 

Salam terhangat

Kadek Adi Wibawab, M.Pd.