gambar-guru-mengajar2

Ketika anak2 (siswa) ditanya, siapa yang paling dipercaya antara guru (di sekolah), orang tua, dan guru les dalam hal pelajaran?
Jawabanny mudah ditebak.. “guru di sekolah lah” kenapa? Mudah juga ditebak, krn yg memberikan nilai dan decision makingnya adalah guru (memberikan pujian, memberikan nilai, memberikan hukuman baik verbal/fisik ketika salah). Jadi tidak heran kalau siswa sangat berpetokan pada jawaban guru, bahkan cara guru mengerjakan, sampai titik komanya harus sama persis.
Orang tua seringkali dibuat geleng2 dibuatnya, terlebih lagi guru les… krn kdng ada cara guru yg keliru.
.
Pengalaman saya begini sbg guru les…
Sya sdng mengajar materi KPK dan FPB… ada satu soal yg menarik… “tentukan FPB dari 15 dan 32” sprti biasa saya minta siswa yg terlebih dahulu mengerjakan. Dan dengan cepat mereka mengerjakan dan memberi jawaban. “0”
Ekspresi saya sdkit kaget dan tak sabar ingin bertanya, dengan senyum yg tampak sya bertanya “darimana dapetny, kok bisa 0?” Dengan yakin dan semangatnya ia bercerita. “… sya gunakan pohon faktor. Setelah itu sy cari yg sama, ternyata tidak ada. Karena tidak yg sama, kta bu guru, jawabannya 0”
Sya menyimak dan menyahut “ohhh… begitu… kamu yakin dengan jawabanmu?” “Yakin” “klo bpk blng itu keliru gmn?” “Tp kan bu guru blng cara jawabny sprti itu”
.
Saya tarik nafas dalam dalam…
Bukan krn sya menyerah, tp berpikir gmn yaa caranya meyakinkan dy, klo jawabanny itu keliru?
.
Pelan tapi pasti… sya menjelaskan konsep dasar apa itu FPB, apa itu F, apa itu P, dan apa itu B.. beserta contoh2nya… smpai dy memahami bhw jawabanny bukan 0 tp 1. Untuk bs sampai kesimpulan itu, debatnya lama skali. Intiny dia bertanya “kenapa sya harus percaya kalau hasilnya 1 bukan 0?”
Sehebat dan sekuat apapun sya jelaskan, sya tau dia gk percaya sma sya 100%, bayang bayang gurunya masih ada.
.
Karena itu, sya tantang dia untuk berani menyodorkan jawaban yg baru kepada gurunya, berani bertanya, berargumen… dan tentu ini butuh simulasi tingkat dewa sebelumnya.
.
The final…
Yeaaa…. greet moment terjadi.
Argumennya dia diterima, dan guru akhirnya mengakui kekeliruannya.
.
Ada kasus lain yg sya temukan juga, dmn siswa percaya sma jawaban guru yg berpatokan pada buku dibanding dengan jawaban orang tuanya yg berpatokan pada realita (seperti yg sya posting pada web syaadimath17.wordpress.com)
.
Langkah bijaknya menurut sya bukan mengambil langkah potong kompas “gurumu tu yg salah” “cara bapak yg bener, gurumu salah, gak gitu caranya” “kamu harus percaya sma sya guru lesmu, gurumu disekolah salah”. Tapi bagaimana caranya meyakinkan anak/adik/murid les untuk belajar memahami dan berani berargumen.
Terlebih lagi matematika… dasar matematika adalah make sense…. itu yg semestinya dipegang.
.
Kadek Adi Wibawa, M.Pd.