Teori dan Opini: Afektif, Psikomotorik, dan Kognitif

Kemampuan seperti apa yang harus dibentuk dan dimiliki oleh seseorang, menjadi satu pertanyaan penting dalam dunia pendidikan. Seseorang yang masuk dalam dunia pendidikan pada dasarnya ingin memiliki suatu kemampuan yang tumbuh dalam dirinya dan kemampuan yang telah dimilikinya diharapkan mendapat penghargaan oleh semua orang. Apa itu kemampuan? Kemampuan seseorang itu adalah saat dia menunjukkan suatu perkembangan dalam kehidupannya, begitu kira-kira yang disampaikan oleh Munif Chatib dalam bukunya yang berjudul “Sekolah Anak-anak Juara”

Dalam dunia psikologi perkembangan, ada tiga komponen perkembangan manusia, yaitu psikoafektif, psikomotorik, dan psikokognitif. Tiga komponen perkembangan inilah yang memunculkan tiga ranah kemampuan manusia, yaitu afektif, psikomotorik, dan kognitif (Ar-Ruzz Media dalam Chatib, 2012).

Munif Chatib menyebut tiga ranah kemampuan ini SELUAS SAMUDRA. Bagaimana penjelasannya?

Manusia memiliki kemampuan psiko-afektif, yaitu suatu respon atau perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.

ilustrasi-_121004184018-542

http://www.khoiruummah.sch.id/2012/10/kisah-indah-abu-hurairah.html

Secara umum, perasaan itu adalah suasana hati yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, suka atau tidak, baik dan buruk. Lebih jauh, afektif juga diartikan perilaku atau akhlak seseorang terhadap lingkungannya. Sederhananya, perilaku yang baik saat orang berinteraksi dengan lingkungannya ataupun dengan dirinya sendiri adalah sebuah kemampuan. Baca lebih lanjut

Enam Model Interaksi antara Guru, Siswa, dan Matematika sebagai Konten

Cuplikan Isi Artikel yang berjudul “Peran Guru: Memahami Model Interaksi antara Guru, Siswa, dan Konten dalam Pembelajaran Matematikayang di publikasikan di Prosiding Seminar Nasional di Unesa

Mason (2004) menjelaskan terdapat enam model interaksi antara guru, siswa dan matematika (sebagai konten) yang sering disebut tiga serangkai dalam pembelajaran matematika.  Menurut Bennet (dalam Mason, 2004) tiga istilah (guru, pebelajar, konten) dapat menduduki tiga peran (menginisiasi, merespon, dan memediasi) yang diperlukan bagi terjadinya hubungan dan kegiatan. Enam model interaksi  tersebut adalah expounding dan explaining, exploring dan examining, dan exercising dan expressing. Guru memegang peranan penting dalam hal ini, karena guru harus membelajarkan matematika pada siswa dengan tuntutan agar materi atau semangat matematika dapat diterima oleh siswa.

Inisiatif dari Guru

SAM_0129

Interaksi yang inisiatifnya berasal dari guru dibedakan menjadi dua macam, yaitu: (1) expounding, dan (2) explaining. Expounding itu sama seperti ceramah dengan menjelaskan secara rinci yang diarahkan kepada semua siswa, baik diminta maupun tidak. Sedangkan explaining hanya dilakukan untuk merespons pertanyaan yang di ajukan oleh siswa. Expounding dan explaining memiliki arti yang sama yaitu menjelaskan, akan tetapi terdapat perbedaan pada posisi guru dalam melakukan interaksi dengan siswa. Baca lebih lanjut

Kognitif = Nilai ? Apa itu benar

Saya selalu mencoba untuk peka jikalau ada status di fb (terutama dari teman-teman saya) terkait dengan pendidikan dan matematika. Salah satunya status yang dibuat sahabat saya, Bli Sutha.

Jpeg

Jpeg

“Pendidikan Indonesia terlalu cognitive minded alias berorientasi kepada aspek kognitif, sementara aspek afektif dan psikomotornya kurang diperhatikan. Dampaknya, banyak orang yang pintar, tapi korupsi, suka melakukan plagiarisme, suka berkata-kata kotor, berperilaku tidak sopan, egois, emosional, tempramental, suka buang sampah sembarangan, suka melanggar lalu lintas, dan berbagai perilaku buruk lainnya.
(Copy dari kompasiana)
Memang itulah yg terjadi di keseharian kita. Hal konyol selalu ditampilkan dlm berprilaku, padahal sdh berpendidikan tinggi. Kira2 ilmu dan agama yg didapat diamalkan atau tidak ya??”

Membaca status ini saya langsung terfokus pada kata “kognitif” dan kalimat “Pendidikan Indonesia terlalu cognitive minded alias berorientasi kepada aspek kognitif”

Saya mengabaikan niatan dari dibuatnya status ini, karena semua orang pasti geram dengan perilaku-perilaku aneh yang terjadi di negeri ini, dan mencoba untuk membuat satu tulisan yang mampu menggambarkan “kegeraman” itu.

Kemudian saya ikut comment: Baca lebih lanjut

Paradoks Operasi Tambah

Beberapa hari yang lalu saya tidak sengaja menemukan satu postingan tentang “Uji Kecerdasan” postinganya seperti ini:

Jpeg

Jpeg

Saya berpikir sejenak dan mencoba mencari solusinya. Saya ketemukan “ohh… hasil selisih kedua bilangan digandengkan (digabungkan) dengan hasil penambahan kedua bilangan” sambil mengganggukan kepala kepedean. Tapi saya berpikir lagi, #berpikircukuplama… “bolehkah operasi tambah di buat definisi lagi (seperti jawaban saya)? Kalau boleh, lalu kenapa dibedakan operasi tambah yang di soal dengan operasi tambah yang saya gunakan untuk menjawab?” #ceritanyasayasedangberpikirkeras

Kemudian saya menshare postingan ini dan membubuhkan satu kalimat “bolehkah saya menyebut perhitungan ini sebagai paradoks matematika?” Baca lebih lanjut

Tidak Paham Konsep, Padahal Sudah Belajar

boystudy

http://oziesegeran.blogspot.com/2011/08/memotivasi-diri-dalam-belajar.html

kak adi mau tanya ni kak adi,, bisa kah kak adi menjelaskan kenapa seseorang tidak memahami konsep dengan baik padahal dia telah belajar mengenai hal tersebut. ?

Pertanyaan yang bagus, dan saya tidak bisa menjawab di fb karena yang diminta adalah “penjelasan”.

Saya akan menjawab dengan Teori Pemrosesan Informasi yang terjadi dalam Otak kita, ketika mencoba untuk memperoleh sesuatu (informasi). Oke singkatnya seperti gambar di bawah ini

PENGANTAR landasan pend

Ketika kita sedang belajar sesuatu, entah itu karena kita belajar sendiri atau diajarkan oleh orang lain, itu berarti bahwa otak kita akan menerima sesuatu yang disebut disini sebagai “stimulus”. Nah, ketika si Stimulus ini masuk ke dalam otak, dia akan tersimpan terlebih dahulu pada “penyimpanan sensorik” dan itu prosesnya sangat cepat dan singkat. Seperti ada mobil ferari lewat di depan kita dengan sangat sangat cepat ‘wiuuuu”, yang menandakan bahwa otak kita akan kedatangan Baca lebih lanjut

Berdasar Sumber: Menjawab 4 x 6 atau 6 x 4

Beberapa hari ini, “Dunia Mayat” dihebohkan dengan permasalahan yang muncul dipermukaan mengenai 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 sama dengan 4 x 6 atau 6 x 4. Masalah ini menjadi semakin membesar ketika orang awam “yang bukan berkecimpung di bidang matematika” mencoba untuk berpendapat sesuai dengan pengalamannya dan sudut pandangnya masing-masing dengan berbagai celotehan yang kadang tidak mendasar dan cenderung “menyalahkan” salah satu pihak, dalam hal ini yang paling menjadi sorotan adalah Guru (padahal “mereka” belum tahu juga, mengapa guru sampai menyalahkan? Dan bagaimana awalnya guru menjelaskan di kelas?) Aneh memang.

Belum lagi, para Profesor ikut nimbrung, memberikan argumennya masing-masing, hingga pada perdebatan hebat, karena berbeda pandangan dan pendapat.

Saya ingin mencari SOLUSI dari permasalahan ini, karena masih mengambang. Ada satu Prof. yang menyatakan keduanya bisa “sahih” (bukan benar, menurut beliau, dalam matematika tidak ada kata benar atau salah) tergantung membahasakannya bagaimana. Prof. yang kedua mengkaitkan dengan kehidupan nyata, yaitu 4 kotak dan 2 jeruk.

Tentu saja saya tidak akan membantah pendapat dari kedua prof. tersebut, karena mereka pasti sudah benar-benar memikirkan dan mendasari apa yang sudah dipaparkan.

Saya mau berangkat dari buku nya Musser, Burger, dan Paterson yang berjudul “Mathematics For Elementary Teacher”, mendefinisikan konsep dasar perkalian sebagai berikut: Baca lebih lanjut

BUKU TEMATIK KELAS 5 SD, “ada yang keliru!”

“pak tunggu dulu, ada yang mau saya tanyakan”

seusai saya membina olimpiade matematika di salah satu SD di Malang tadi sore, saya di stop oleh guru kelas 5 dan meminta agar saya tidak pulang dulu karena ada yang mau di tanyakan.

“wah, kira-kira yang ditanyakan apa ya?” pikir saya dalam hati.

ternyata beliau menanyakan soal yang ada di buku tematik kelas 5.

“begini pak, ini ada rumus di buat di buku ini, menurut Pak Kadek benar atau tidak?”

(rumusnya yang tampak pada gambar)

IMG_20140916_154516

IMG_20140916_154500

berpikir sejenak, sambil mencoba mencari yang dimaksud yang mana ya? Baca lebih lanjut